Fanfiction
Korea
FF Super Junior - Love Of Moment (Part 3)
08.12.00
Title
:Love Of Moment
Autor : Dhidiane
Genre : Frienship, Romance, family,
Rating : PG-15
Genre : Frienship, Romance, family,
Rating : PG-15
Length
: Chapter
Cast
: Eunhyuk, Siwon, Kyuhyun, Sungmin, jung eunsoo (OC) ,
hachikawa azuna (OC)
Disclaimer
: This is the original ff. comes from my mind and imagination. if there
is a similar plot was only fortuitous similarity.
---***---
Eunhyuk berjalan dengan gontai ke arah gedung bewarna cream
yang berdiri dengan gagahnya di kota seoul.akibat perkelahian kecil
–menurutnya- di bar membuat Beberapa
bercak biru dan kemerahan tercetak cukup jelas di wajah tampannya. Dia terus
berjalan menyusuri jalan setapak yang sepi tanpa memperdulikan kakinya yang
sakit. Keringat bercucuran dari pelipisnya dan mengalir ke lekukan wajahnya
membuatnya meringis. Tenaga yang tersisa sepertinya tak menolong eunhyuk. Tubuh
tinggi itu dengan mudahnya terhempas ke tanah dengan badan terlentang. Wajah
yang nampak lembam itu menatap langit yang cerah dengan mata sayu nya. Wajah
itu sesekali tertawa kecil dan meletakkan tangannya di wajahnya mengihindari
pantulan cahaya matahari yang mengenai matanya.
“cuaca tak pernah mendukung ku” eunhyuk mencoba kembali
berdiri dan tapi hasilnya nihil. Dia kembali terjatuh dan mencoba lagi berdiri
dan naas nya kepalanya terbentur batu dan membuatnya terlentang –lagi- di atas
tanah. Kepalanya yang pusing karena benturan –dan alkohol- membuat pandangannya
mulai mengabur dan akhirnya menghitam. Terakhir pendengarnya menangkap suatu
suara yang dia tau pemilik suara itu adalah seorang yeoja.
---***---
Sepasang mata yang sang pemiliknya berwajah lembam mulai
menggerakan matanya. Jarinya yang terasa berat dipaksakannya untuk menyentuh
sesuatu-yang-berasa-dingin-di-dahinya. Mata yang berusaha untuk terbuka tadi
sudah terbuka separuh-sempurna. Jari tangan panjang itu meraba benda yang ada
di dahinya. dahinya berkerut ketika merasakan benda itu adalah kompres dan juga
ruangan tempatnya tertidur sekarang ini serba putih –ditambah bau obat obatan
yang membuatnya mual-.
“kau sudah bangun?” eunhyuk menoleh ke samping-tepatnya ke
sebelah kanannya-. Seorang yeoja berambut panjang yang diikat acak tengah
berdiri membelakangi nya. Yeoja itu tampak mengerjakan sesuatu yang menurutnya
cukup berbahaya. Dan terkaan eunhyuk benar. Yeoja itu berjalan membawa beberapa
obat dan air bewarna di tangannya. Yeoja itu menarik sebuah kursi dan duduk di
samping ranjang eunhyuk.
“ige mwoya?” eunhyuk menatap ngeri ke arah benda yang
sekarang berada di depan hidungnya.
“minum ini. Ini akan membuat efek alkoholmu hilang. Dan
minum obat ini, untuk menghilangkan sakit kepalamu”yeoja itu menarik tangan
eunhyuk dan menyuruhnya untuk meminum. Eunhyuk menatap jijik gelas yang
dipegangnya dan beralih menatap yeoja di sampingnya. Mata eunhyuk yg tadinya
sendu karena baru siuman tiba tiba menjadi besar melihat tatapan setan dari
yeoja itu.membuat eunhyuk segera meminum air yang ditangannya tanpa ragu
sedikitpun.suara batuk keluar dari mulut eunhyuk. Namja itu menatap jengkel
gelas yang ditangannya dan beralih menatap yeoja yang sekarang menyodorokan air
putih dan obat ke arahnya.
“itu gingseng. Kurasa itu bisa menyembuhkan mu dari efek
alkohol” eunhyuk mengambil dengan kasar air di tangan yeoja itu dan segera
meminumnya sampai habis. Yeoja itu sedikit tersenyum dan mengambil gelas gelas
yang ada pada eunhyuk.ia berjalan menuju meja yang terletak dipojok ruangan itu
dan membersihkan gelas gelas itu dengan cekatan.
Eunhyuk terus menatap kegiatan yeoja itu.ada seperti
kesenangan jika melihat yeoja itu melakukan sesuatu dan itu nampak menarik
dimatanya. Yeoja itu berjalan dengan cepat ke sebuat meja putih yang terletak
di sebelah lemari-yang menurut eunhyuk itu adalah penyimpanan obat-. Yeoja itu
mengambil sebuah kertas yang terletak disana dan mencatat sesuatu di sana
sebelum beralih ke arah handphone yang terletak di atas meja itu. Yeoja itu
nampaknya sedang menelvon seseorang, dan yang dibicarakannya sepertinya sangat
serius-terlihat dari raut wajahnya-. Yeoja itu mengambil tas yang –juga- berada
di atas meja putih- dan megambil suatu benda yang nampak nya sangat membantu
eunhyuk saat itu. Yeoja itu berjalan ke arah eunhyuk dan itu membuat eunhyuk
gelalapan –karena terus memperhatikan yeoja itu-.yeoja itu melempar benda yang
biasa di sebut eunhyuk –sampah miskin- ke arah dirinya. Eunhyuk yang benar
benar tak menyukai –sampah miskin- itu hanya memegangnya dan menatap yeoja di
sampingnya heran.
“bukan kah kau belum sarapan? Sejak tadi perutmu meronta
ronta” eunhyuk mengerutkan keningnya heran. ‘kenapa yeoja ini tau?’batin
eunhyuk.
“kau mendengarnya?”yeoja itu mengangguk sekali. Dagu yeoja
itu mengarah ke arah roti itu, tanpa rasa jijik eunhyuk segera membuka plastik
yang membungkus sampah miskin –yang biasa disebut roti- dan melahapnya seperti
orang kesurupan. Yeoja itu tersenyum dan merapikan rambut eunhyuk yang
berantakan dan membuat gerakan mengunyak eunhyuk perlahan lahan berhenti.
Eunhyuk terperangah menatap wajah yeoja yang sangat sangat dekat dari wajahnya.
Entah setan apa, tangan besar eunhyuk terarah ke wajah yeoja itu dan mengelus
lembut pipi cubby itu dengan ibu jarinya.mata hitam eunhyuk menatap sedih wajah
yang sedang dielusnya.sepasang bola mata abu abu menatap eunhyuk dengan mata
yang membesar.melihat mata itu membuat sedikit rasa sakit dan rindu yang timbul
di dadanya ketika menatap mata abu abu itu. Luka yang masih terbuka lebar
sampai saat ini.
“ehemm” yeoja itu berdehem membuat eunhyuk segera melepaskan
tangannya dari wajah yeoja itu dan membuang pandangannya ke arah jendela yang
terbuka membawa daun daun yang berguguran ke dalam ruangan. Melihat pemandangan
itu membuat eunhyuk berasa lebih normal dan lebih-sedikit- berani menatap yeoja
yang sekarang tengah mengambil tas dan handphonenya
“hei, badan sebesar itu apa bisa membawa ku kesini?” yeoja
itu kembali duduk di kursi samping eunhyuk dan menjawab pertanyaan eunhyuk
dengan singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone birunya.
“ani. Tadi senior membawa mu kesini dan mereka meminta ku
merawat mu”eunhyuk hanya mengangguk
mengerti. Tak mungkin yeoja berbadan kecil seperti ini membawanya ke UKS
sendirian. Dan jika iya itu sangat mustahil.
Otak eunhyuk kembali bekerja dengan sangat normal. Dia
segera menatap wajah yeoja yang kini tengah mengetik sesuatu di handphonenya
dengan serius. Eunhyuk baru ingat, dia pernah bertemu dengan yeoja ini.
“hei kembalikan dompetku”yeoja itu segera mengangkat
wajahnya dan menatap heran eunhyuk yang sekarang menatap nya jengkel. Kening
yeoja itu berkerut bingung.
“dompet?” eunhyuk mengangguk mengiayakan. Yeoja itu menatap
sepatu kets bewarna biru-tua-lusuh miliknya. Kepala dengan rambut yang masih
diikat acak itu menatap eunhyuk dengan mata berbinar. Membuat eunhyuk ingin
segera mati saat itu juga.
“aku ingat. Tapi itu bukan milikmu. Tak ada bukti itu
milikmu”eunhyuk menggertakan giginya kesal. Baru sedetik tadi dia hampir mati
melihat wajah yeoja ini, tapi detik berikutnya eunhyuk ingin sekali mencekik
yeoja di sampingnya ini.
“itu milikku. Memang tak ada kartu identitas atau ATM di
dalamnya. Aku tau benar itu milikku” eunhyuk berusaha meyakinkan yeoja yang
sekarang hanya menatapnya datar. Membuat eunhyuk benar benar ingin mencekiknya.
“aku membelinya di london. Harganya lebih mahal dari
handphone tua yang kau pegang itu dan
Dompet itu dari kulit ular asli dan hanya ada beberapa di bumi ini”
eunhyuk kembali berusaha meyakinkan yeoja itu.yeoja itu mengangguk dengan mata
berbinar dan berkor ‘oohh’ cukup panjang. Yeoja itu mengambil dompet
kulit-ular-asli itu dari dalam tasnya dan mengangkatnya kedepan wajahnya
sendiri.
“ini milikmu?” eunhyuk mengangguk cukup kuat. Mungkin
kepalanya bisa lepas jika dia tak menghentikannya segera.yeoja itu kembali
memasukan dompet itu ke dalam tas dan segera berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Eunhyuk yang melihat yeoja itu hanya bisa diam dan bingung melihat perlakuan
yeoja itu.
“aku masih belum percaya” yeoja itu membuka pintu dan
menutupnya ketika badannya telah hilang di balik pintu. Eunhyuk hanya bisa diam
melihat perilaku yeoja yang tak diduga itu. Tiba tiba pintu putih itu terbuka
dan yeoja tadi melempar sesuatu ke arah eunhyuk.
“bersihkan lukamu dengan itu, dan jangan minum alkohol lagi”
yeoja itu kembali menutup pintu itu dengan cukup keras. Eunhyuk terkejut
mendengar kata kata yang keluar dari mulut yeoja tadi. Baru kali ini dia di atur
oleh seseorang.seumur hidup dia malah.
--***--
Beberapa orang yang ada di dalam ruangan yang tak terlalu
besar dan tak terlalu kecil itu nampak sangat sangat sibuk. Mereka bekerja ini
itu tanpa memperdulikan satu sama lainnya. Mereka lebih fokus pada pekerjaan
yang sekarang tengah menunggu mereka. Beberapa dari mereka ada yang sibuk
dengan komputer di atas meja mereka, ada yang sibuk menulis dengan telvon yang
terapit antara kepala dan leher mereka dan ada juga yang sibuk bolak balik
dengan membawa gunungan kertas ditangan mereka. Dari antara mereka yang sibuk
itu ada seorang yeoja manis yang tengah sibuk dengan komputer dan buku bukunya-yang
tergeletak di atas meja-. Sesekali eunsoo mencoret atau melingakari kata kata
yang menurutnya penting dan kembali beralih menatap layar monitor di
depannya.rambut eunsoo yang dikucir tak membuatnya kedinginan karena AC dan
udara malam yg cukup dingin.
Sebuah pintu bercatkan hitam pekat yang terletak tepat di
belakang meja karyawan terbuka lebar dan menampakan sosok namja tinggi
menjulang berjalan dengan angkuh melewati orang orang yang menatapnya kagum.
Eunsoo yang tadinya benar benar tak ingin mengalihkan pandangannya dari monitor
terpaksa menatap namja yang kini tengah melewati mejanya –dan sebuah memo
terletak diatasnya-. Eunsoo mengambil kertas kuning dengan tulisan acak di
atasnya. Kening eunsoo berkerut ketika membaca tulisan itu –bukan karena
tulisannya yang jelek-. Orang orang yang berada di dalam ruangan itu menatap
menggoda eunsoo dan memberikan selamat kepada nya. Eunsoo yang tak tau apa apa
hanya bisa melongo menyaksikan rekan kerjanya yang gila –mungkin karena
banyaknya pekerjaan-. Seorang yeoja yang berumur 30tahunan menyikut eunsoo dan
mengarahkan dagunya ke memo yang masih dipegang eunsoo.
“kau ada janjian dengan tuan muda choi?” eunsoo semakin
berkerut mendengar nama asing yang didengarnya. Setelah eunsoo menanyakan siapa
nama yang disebutkan yeoja itu, hanya jawaban mata-yang terkejut yang
diberikannya kepada eunsoo
“kau tak tau siapa tuan muda choi?” eunsoo menggeleng dengan
wajah polos. Memang dia tak tau siapa namja yang dipanggil tuan muda choi –dan
dia tak peduli-.
“dia adalah anak pemilik perusahaan ini. Dia benar benar
tampan, gagah dan pintar. Bayangkan saja dia telah menamatkan 3semester di
london university dan pindah kesini karena ingin mempelajari tentang perusahaan
ayahnya.” Eunsoo mengangguk sok mengerti –walaupun sebenarnya dia tak atau apa
yang dbicarakan-.
“dan dia juga digosipkan namja yang kasar dan playboy. Kau
harus hati hati dengannya. Walaupun dia lembut kebeberapa orang, dia juga
bersikap sangat kasar. Walaupun terhadap
seorang yeoja” eunsoo mengangguk mengerti. Eunsoo baru saja bekerja 3bulan di
perusahaan majalah terbesar di korea dan seharusnya mereka mengerti kenapa
eunsoo tidak tau siapa yang dibilang tuan-muda-choi itu. Dan lagi, kenapa namja
playboy itu menyerahkan memo kepadanya.sedangkan eunsoo sendiri baru detik ini
mengenal nya.
Tanpa banyak buang waktu, eunsoo segera menyelesaikan
pekerjaannya dan pergi menuju tempat yang tertulis di memo kuning tadi.
--***--
Seorang namja tinggi dengan rambut yang acaka acakan karena
angin -membuat nya lebih tampan- berdiri menyandar pada gerbang kantor miliknya
–yang sebentar lagi akan menjadi miliknya-. Namja itu menoleh ke kiri dan
kenanannya menanti seseorang yang menjadi penyelamat hidupnya sebentar lagi. Langkah
kaki terdengar mendekati nya. Seorang yeoja bertopi rajut berjalan kearahnya
dengan tatapan penuh heran. Namja yang tadinya berdiri bersandar ke dinding
berjalan mendekati yeoja yang sekarang berhenti beberapa langkah darinya.
“kenapa kau memanggilku kesini?” eunsoo menatap kesekelilingnya. Tempat yang ramai
tapi yang menerangi mereka hanya sebuah lampu yang remang remang –membuat
eunsoo merinding-. Eunsoo sekarang memperhatikan namja yang masih saja diam
–seperti orang bisu-. Eunsoo sedikit terkejut ketika mengetahui siapa namja
yang memanggilnya ini.
“kau bukankah siwon?! Jadi kau adal—hmmm” kata kata eunsoo
terpotong karena tangan besar namja bernama siwon itu membungkam mulutnya dan
mendorongnya kedinding. Eunsoo memberontak karena hampir kehabisan nafas.
Segera siwon melepaskan tangannya dan mengurung eunsoo di depannya dengan kedua
tangannya di tempelkan ke dinding –disebelah kepala eunsoo-. Mata eunsoo yang
besar semakin besar mengetahui wajah dingin siwon hanya beberapa jarak dari
wajahnya –hingga terpaan nafasnya terasa di wajah eunsoo-. Eunsoo menutup
matanya karena takut akan terjadi apa apa padanya.
“dimana temanmu itu?” eunsoo membuka matanya takut ketika suara parau siwon mulai bersuara. Keningnya berkerut melihat wajah siwon yang memerah walaupun penerangan tak membantunya, tapi sangat jelas jika wajah siwon memerah dan seperti nya dia marah.
“teman siapa?” eunsoo terkejut ketika siwon kembali
mendekati wajahnya ke arah eunsoo. Kenapa dia marah? Bukankah wajar eunsoo
menanyakannya? Dia mempunyai beberapa teman di seoul.
“diamana ha—“
“eunsoo? Kau itukah eunsoo?” eunsoo dan siwon segera menoleh
kearah sumber suara. Seorang yeoja berambut panjang berjalan cepat kearah
mereka. Siwon yang melihat yeoja tersebut –atau mungkin tidak- segera
melepaskan tangannya dari dinding dan segera berjalan dan memasuki mobilnya
yang sejak tadi terparkir di tepi jalan. Eunsoo dan yeoja tadi –yang sudah
disamping eunsoo-menatap mobil sport yang kini melaju dengan kencang
meninggalkan mereka. Eunsoo tersenyum kearah yeoja jepang yang kini tengah
mengatur nafasnya dengan susah payah.
“nan gwencana.gwencanao” eunsoo mengelus punggung azuna
untuk menenangkan dirinya. Azuna mengangguk dan mengambil nafas yang cukup
panjang dan melepaskannya dengan perasaan yang lega.
“kenapa kau ada disini?” azuna menarik eunsoo menuju ke
mobilnya yang terparkir di ujung jalan. Azuna melirik eunsoo dan menatapnya
memelas
“laptop ku error. Jadi aku kesini untuk meminta
bantuanmu.hehe” eunsoo yang tau apa maksudnya hanya bisa mengangguk dan
memasuki mobil yang sekarang telah bertukar tidak seperti mobil yang tadi pagi.
Mobil pink yang serba pink.
---***---
“kau tidak sedang sakit bukan?” sungmin menatap eunhyuk yang
tidur disofanya dengan gitar clasik di pangkuannya. Eunhyuk Cuma menggeleng dan
tetap memainkan gitar itu tanpa minat. Sedangkan sungmin duduk di atas kursi
belajarnya dan duduk cukup jauh dari eunhyuk yang berbau alkohol. Sungmin yang
duduk dengan sandaran kursi di depannya,menyandarkan kepalanya yang terasa
berat keatas sandaran yang empuk itu. Mendengar cerita eunhyuk tadi membuatnya
meninggalkan tugas kuliahnya dan mendengarkan cerita gila eunhyuk. Cerita yang
mungkin hanya terjadi 1% di dunia ini.
“mana mungkin mereka kembar? Jika iya, seharusnya dia sudah
lama mengatakannya padamu bukan?” sungmin menatap penasaran kepada eunhyuk yang
sekarang tak menjawab pertanyaan sahabatnya –yangsudah dianggap sebagai hyung-.
Eunhyuk bangkit dari posisi tidur ke posisi duduk. Di letakkannya siku sikunya
pada pahanya dan menopang kepalanya yang terasa berat pada telapak tangannya.
Dia berfikir sejenak apa yang diucapkan sungmin tadi.itu bisa jadi mustahil.
tapi jika iya—dia tak tau harus berbuat apa.
“kau sudah menanyakannya pada kyuhyun?” eunhyuk menggeleng
lemah. Suara desah yang panjang keluar dari bibir mungil sungmin. Dia sudah tau eunhyuk tak akan
menanyakan atau menceritakan hal ini
pada kyuhyun –daripada dia mendapatkan pukulan dari kyuhyun-.
“aa~ molla. Hyung aku lapar. Buatkan aku makanan.palli”
sungmin melempar sebuah bantal ke arah eunhyuk dengan kesal.
“kau bilang aku ini apa? Pergi kerumah mu dan suruh pembantu
pembantu mu itu membuatkanmu makanan. Aku bukan pebantumu” sungmin menggeser
kursinya ke arah meja belajar dan merubah posisi duduknya.sungmin mulai
mengerjakan tugasnya yang sejak tadi diacuhkannya. Sedangkan eunhyuk berjalan
mengelilingi kamar yang cukup besar itu. Kamar yang besar ini mungkin tak
sebanding dengan kamar eunhyuk. Walaupun kamar ini bisa dibilang besar, tapi
kehangatan dan kenyamanan benar benar jelas tercetak disana. Tidak sepeti kamar
eunhyuk yang seperti kuburan –benar benar suram-. Eunhyuk berjalan ke rak yang berada
didekat tv dan mengambil jam pasir yang terletak diatasnya. Eunhyuk membawa jam
pasir itu ke ranjang sungmin dan memainkannya dengan tatapan suram.
“aku tak mau makan makanan jijik itu” sungmin tak berkutik
sedikitpun dari posisinya. Eunhyuk tau sungmin sedang berkosentrasi dengan
tugas tugasnya, tapi dia tetap melanjutkan ceritanya.
“apa gunanya rumah seperti istana dan uang segedung walaupun
tak ada sedikit cahaya disana?” eunhyuk meletakkan jam pasir itu di meja kecil
di sebelah ranjang sungmin. Merebahkan badannya dan menatap langit langit kamar
sungmin yang terbuat dari kaca. Menampakan bintang bintang bersinar diatas
sana.
“jadi, kenapa kau masih ingin tidur dan beristirahat
disana?” sungmin masih tak berkutik, tapi bibir nya mengucapkan kata kata yang
membuat eunhyuk terdiam sejenak.
“karena disana aku dibesarkan. Tak ada burung yang jauh dari
tempatnya dilahirkan bukan?” sungmin mengangguk mengiyakan eunhyuk –walaupun
eunhyuk tak melihatnya-. Eunhyuk memejamkan matanya dan mulai membayang seorang
yeoja yang dicintai separuh hidupnya. Yeoja yang selama ini dicintainya,
membuatnya tertawa dan menangis. Dan yeoja yang membuatnya gila karena orang
yang dicintainya menghilang seperti debu. Tiba tiba saja setitik air mata
mengalir keluar dari mata terpejam eunhyuk dan merayap ke pipi eunhyuk. Ya dia
memang cengeng dan rapuh. Tapi itu wajar bukan? Orang yangdicintai selama ini,
orang yang membuat kita sedang tertawa terbahak bahak, orang yang sedang
mengelus rambut kita, tiba tiba menghilang tanpa jejak, tanpa izin,hilang
seperti angin.
Sungmin membereskan buku bukunya dan menyusunnya dengan rapi
diatas meja belajarnya. Sungmin berjalan menuju ranjangnya dan melihat eunhyuk
yang terlelap dengan bekas air mata di pipinya. Sungmin hanya tersenyum tipis dan
menarik selimut untuk menutupi badan eunhyuk yang semakin kurus.
“aku tau bagaimana sakitnya teman. Tapi inilah yang bisa
membuatmu sadar dan dewasa”
---***---
Azuna memegangi kepalanya yang sakit. Entah berapa lama dia
duduk di taman kampus, tapi orang yang ditunggunya tak kunjung datang, ditambah
kepalanya yang benar benar sakit ini. Azuna mengacak isi tasnya tapi obat yang
dicariya tak juga ketemu. Azuna memilih mengambil kopi yang masih tersisa
sedikit dan meminumnya tanpa sisa. Sakit kepala yang diderita azuna malah
tambah menjadi dan membuat azuna sulit untuk sekedar duduk. Ditambah kejadian
kemarin, ketika dirinya keluar dari kantin untuk mengangkat telvon. Pemandangan
yang menjijikan dan juga mengguncang perut jelas tercetak di pikiran azuna. Jika
azuna mengingatnya lagi, mungkin dia pingsan karena badannya yang terlalu panas
dan kepalanya yang sakit untuk memikirkannya. Pemandangan sepasang kekasih
bercumbu di bawah tangga. Itu benar benar menjijikan. Azuna memegang kepalanya
lagi mengingat kejadian menjijikan itu.
Dilain tempat, Seorang namja dengan mantel hitamnya berjalan
dengan angkuh ke taman kampus yang sunyi. Kaki panjangnya berjalan dengan cepat
melewati tanaman pagar yang berjajar rapi dan berakhir menemukan bangku yang
terbuat dari kayu yang dipenuhi daun yang berguguran. Sebelah tangannya
memegang sebuah handphone dan mengetik sesuatu disana. Sebuah pesan singkat dan
manis pun terkirim pada orang yang ditujunya. Siwon mendaratkan badannya pada
kursi tua itu dan memperhatikan daun daun yang ada di bawah sepatunya. Mungkin
sekarang dia seperti daun daun yang ada di bawah sepatunya ini, diinjak injak
ketika dirinya sedang rapuh dan lemah.
Siwon menggeleng menghilangkan pikiran negatif nya.ia
mengedarkan pandangan matanya pada taman kampusnya yang sangat sunyi.saking
sunyinya suara anginpun benar benar jelas di telingnya. Tak jauh dari tempatnya
duduk, seorang yeoja tengah memegangi kepalanya dengan posisi kepala yang
menunduk. Seperti yang dilihat siwon, yeoja itu tengah mengatur nafasnya dan
meremas sedikit kepalanya. Dan sepertinya yeoja itu begitu familiar di mata
siwon. Dari bentuk dan warna rambutnya siwon sedikit mengenali yeoja itu.
“tak mungkin. Itu tak mungkin dia”siwon menggeleng kan
kepalanya dan beralih menatap sepatu kulitnya yg hampir semuanya tertutupi daun
berguguran. Semakin siwon berusaha tak melihat yeoja itu semakin besar
penasarannya untuk melihat wajah yeoja yang tertetekuk itu.
Disisi lainnya. Azuna memegangi kepalanya yang benar benar
tak bisa diangkat lagi. Nafasnya semakin lama semakin sesak dan peluh yang
keluar dari pelipis dan lehernya hampir membasahi baju kemejanya yang dilapisi
jaket. Azuna meraih handphonenya yang terletak di dalam tasnya, tapi naasnya
handphone itu terjatuh ke tanah dan mengaharuskannya untuk mengambilnya
–sebelum terjadi apa apa-. Azuna mulai membungkuk mengambil handphonenya dan
salah satu tangannya masih memegangi kepalanya, tapi sepertinya keberuntungan
tak berpihak kepadanya. Badan azuna yang kaku dan lemas dengan mudah jatuh ke
tanah. Tak ada sedikitpun suara atau gerakan yang dikeluarkan azuna karena badannya
sudah seperti batu.
Sedangkan siwon yang melihat yeoja yang terjatuh ke tanah
itu hanya bisa diam di tempatnya. Tak ada gerakan yang berarti yang dibuat
siwon. Dia ragu, haruskah dia pergi kesana dan menolong yeoja itu atau
menganggap tak ada apapun yang terjadi? Siwon meremas buku buku tangannya dan
mulai berjalan kesana. Tak beberapa meter, siwon terkejut melihat wajah yeoja
itu. Wajah yang tak pernah diperkirakannya sejak dia menginjakan kakinya ke
korea ini.
-to be continue-

0 komentar