Fanfiction
Korea
FF Super Junior - Love of Moment (Part 2)
03.29.00
Title
:Love Of Moment (Part 2)
Autor : Dhidiane
Genre : Frienship, Romance, family,
Rating : PG-15
Genre : Frienship, Romance, family,
Rating : PG-15
Length
: Chapter
Cast
: Eunhyuk, Siwon, Kyuhyun, Sungmin, jung eunsoo (OC) ,
hachikawa azuna (OC)
Disclaimer
: This is the original ff. comes from my mind and imagination. if there
is a similar plot was only fortuitous similarity.
--***--
“eunsoo, antarkan pesanan ini ke meja 11.palli” yeoja
berambut panjang-kemerarahan-karena-matahari- segera mengambil nampan berisikan
coffe latte dan tiramisu.ia melangkahkan kakinya kearah meja yang terletak
cukup terpencil dari meja yang lainnya.disana Seorang namja berambut pirang dan
baju kaos creamnya tengah menikmati musik yang keluar dari headphonenya. Seperti
yang diduga eunsoo, namja itulah yang membuat kehebohan kecil di cafe nya-kafe
bosnya-. Kenapa tidak, beberapa yeoja genit nampak berteriak kecil dan
mengabadikan wajah tampannya dengan handpone atau semacamnya. Eunsoo hanya bisa
geleng kepala dan terus melangkahkan kakinya ke meja 11.
“silahkan menikmati pesanan anda tuan” eunsoo sedikit
membungkuk dan sebelum membalikan tubuhnya, suara berat mengomentari
pesanannya.
“bukankah aku sudah bilang, jangan tambahkan apapun ke
makananku”eunsoo segera berhenti. Ia menggigit ujung bibirnya takut.dia yakin
bahwa pesanan itu tak ada yang salah-dia yakin-. Eunsoo segera membalikan
tubuhnya dan membungkukan beberapa kali untuk meminta maaf.
“jeoseoimnita tuan” eunsoo masih pada posisi membungkuknya
ketika mendengar suara tarikan nafas keluar dari pelanggannya.
“sudah lah. jangan siapkan apapun untuk ku. Aku tak akan pulang”
kening eunsoo mengerut mendengar kata kata tadi. Tidak pulang apa maksudnya?
Eunsoo berusaha menegakan tubuhnya ketika cekikian orang memenuhi
pendengarannya.
Namja itu menutup handphonenya dan meraih telinga cangkir
kopinya-dengan tangan masih memegang handphone-.Namja berambut pirang itu
menatap eunsoo heran. Sebuah handphone mewah yang ada di tangannya membuat
eunsoo ngeri-takut akan dilempar dengan benda mahal itu-. Eunsoo segera
membungkukan badannya lagi
“apa yang kau lakukan?” eunsoo menegakkan badannya dan
menatap heran namja pirang itu. Bagaimana mungkin pelanggan itu menyakan apa
yang dilakukannya saat ini? Apa tak jelas di depannya ini seorang yeoja manis
tengah meminta maaf padanya? Manusia yang aneh.
“jeoseoimnita tuan. Setau saya pesanan anda memang ini tuan”
eunsoo menunjuk coffe latte dan tiramisu yang telah habis setengah nya. Eunsoo
kembali mengerutkan dahinya melihat tiramisu yang-separuhnya-telah-masuk-kedalam-perut
pelanggannya. Bukankah dia marah karena pesanannya tak sesuai dengan
permintaannya?
“jadi? Kenapa kau meminta maaf padaku? Apa kau berbuat salah
padaku?” suara dingin namja itu membuat tulang tulang eunsoo berasa membeku.
Suara berat itu mendesah hebat melihat tak ada satupun respone dari eunsoo.
“mianhe, bukankah anda marah karena pesanan anda?” mata
namja itu membesar mendengar pengakuan polos eunsoo. Suara tawa yang hampir tak
bisa didengar keluar dari mulut pink namja itu. Bagaimana bisa ia tertawa
sedangkan eunsoo hampir terbang ke angkasa saking takutnya?
“dasar yeoja pabbo. Siapa yang marah padamu?”namja itu
menatap datar eunsoo yang sekarang ingin segera pergi dari sana sekarang juga.
Cekikian pengunjung yang melihatnya benar benar membuat telinganya panas. Ingin
sekali eunsoo berteriak untuk menghentikan cekikikan gila itu-kecuali dia ingin
dipecat setelah itu-.
“eunsoo,apa yang kau lakukan disana?” seorang namja bertubuh
tinggi dengan kaos putih berdiri di belakangnya. Mata seperti pisau itu menatap tajam eunsoo
seperti ingin mencongkel bola hitam itu. Eunsoo segera membungkuk dan berlari ke dapur.tempat yang seharusnya ia berada.
Namja tinggi tersebut menggeleng dan duduk di depan namja
rambut pirang tanpa meminta izin pada orang yang-lebih-dulu-duduk-disana. Tanpa
memperdulikan namja angkuh didepannya, dia kembali melahap tiramisu yang
tinggal beberapa bagian dan mengunyahnya perlahan, membuat namja angkuh di
depannya resah.
“eunhyuk, apa yang kau lakukan pada pelayanku ha?”namja
angkuh itu mulai resah dengan suasana sunyi ini-walaupun cafe itu penuh dengan
orang orang yang bising-.namja itu menatap tajam namja pirang-yang namanya
eunhyuk- tanpa melakukan gerakan yang aneh. Sedangkan eunhyuk tengah menikmati
pesanannya tanpa meperdulikan apapun.sperti dunia ini hanya miliknya.
“eopseo. Dia hanya salah sangkah. Aku hanya marah pada
pelayan dirumahku” eunhyuk mengepal tangannya dan menopang dagunya di antara
kepalan itu.menatap namja sombong bernama kyuhyun itu tanpa ekspresi. Kyuhyun
menatap namja itu sebentar sebelum kaki panjangnya membawanya ke ruangan
pribadinya-yang terletak disebelah dapur-.
Eunhyuk. Namja dingin yang sangat pepuler di konkuk
universitas. Bukan hanya dia, 2 orang temannya yang juga terkenal-mungkin lebih
dari dirinya-. 3orang namja tampan yang selalu membuat heboh kampus tanpa
ampun. Bukannya bosan atau apa, eunhyuk lebih menyukai kesunyian dari pada
kehebohan yang membuang buang tenaga itu. Tapi tanpa ia pungkiri, dia harus
menerima nasib seperti itu.
Eunhyuk kembali menyesap coffe latte yang sedikit lagi
hampir habis. Mata hitamnya menatap lurus pada meja kasir-dan juga tempat
pemesanan-. Seorang yeoja berambut panjang kemerahan yang diikat acak membuat
eunhyuk semakin tertarik melihat yeoja tersebut. Seragam pegawai cream dan
cemek hitam membuatnya tampak cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Yeoja
lucu. Itu lah yang terlintas ketika eunhyuk menatap yeoja yang tengah melayani
pelanggannya. tanpa curiga atau apalah namanya,yeoja itu meminta maaf padanya
beberapa kali tanpa mengetahui kesalahannya. Itu membuat perut eunhyuk terkocok
jika mengingat wajah polos itu meminta maaf pada nya.
Bukan karena apa, eunhyuk merasa senang jika memperhatikan
gerak gerik yeoja itu.iya menganggap itu lucu. Ketika tengah asik memandangi
yeoja lucu nya, getaran di atas meja menyita pikirannya. Sebuah nama yang tak
terlalu diharapkannya tertulis rapi di layar handphone mewahnya. Sebuah pesan
singkat yang mampu membuat eunhyuk ingin melempar handphonenya membuat eunhyuk
segera berjalan keluar tanpa memperdulikan sebuah benda yang tertinggal di
meja. Benda yang sangat berharga baginya.
---***---
Malam semakin larut.kota seoul yang dingin karena angin
penghujung musim gugur sesekali menayapa kulit eunsoo. kebanyakan orang lebih
memilih tidur di rumah.tapi mungkin beberapa orang keluar dari istananya hanya
untuk menghabiskan waktu atau melakukan suatu kegiatan yang menurutnya penting.
Mungkin eunsoo salah satunya. Sejam setelah ditutupnya konna bean caffe-yang
pemiliknya adalah kyuhyun- ,eunsoo tak juga beranjak dari tempatnya. Segunung
piring dan alat makan lainnya bersabar untuk dicuci oleh eunsoo. Udara yang
dingin yang terus menyapa kulit eunsoo tak membuatnya segera mengambil jaket
untuk melindungi dirinya. Dia lebih fokus pada cuciannya yang
sepertinya-belum-berkurang. Eunsoo mempercepat gerakan tangannya ketika jam
biru yang ada di tangannya hampir menunjukan jam 12malam.
Malam semakin membuat seoul seperti kutub. Dingin yang
sangat mencengkam membuat orang orang diluar sana mengeratkan jaketnya dan
berjalan cepat ketempat tujuannya. Eunsoo yang berdiri di depan watafel selama
hampir 2 jam mendesah lega melihat cuciannya tertata rapi di tempatnya. Segera
di lepasnya sarung tangan karet pink dan karet gelang yang mengikat rambut
kemerahannya. Eunsoo berjalan dengan cepat kearah loker-yang terletak paling
belakang cafe- dan mengambil tas dan jaket yang tergantung di lokernya. Malam
yang gelap tak membuat eunsoo takut untuk melangkahkan kakinya keluar dari cafe
yang gelap. Bukannya takut,tapi eunsoo sudah terbiasa dengan malam seoul yang
seperti ini, dan dia juga pernah mendapatkan serangan tiba tiba yang bisa
membuat nyawa melayang.
Eunsoo semakin mempercepat langkahnya ketika jam ditangannya
telah menunjukan jam 12tepat. Mungkin tak ada harapan untuk eunsoo segera
pulang dengan cepat dan selamat. Bukannya menyerah dan mengehentikan taxi, dia
malah duduk di halte bis menunggu benda hijau yang mengangkut puluhan orang
berhenti di depannya.dia berharap masih bisa.
Alih alih berharap kedatangan bis, dia malah mendapatkan
beberapa terpaan angit yang dingin ke tubuhnya. Jaket yang digunakannya seperti
tak ingin melindunginya dari dingin. Eunsoo segera mengambil handphonenya di
dalam tas sebelum menemukan sebuah benda coklat mengehentikan gerakannya.
Sebuah dompet kulit yang tipis menyita perhatian eunsoo. Kenapa benda mewah ini
ada di dalam tas nya? Eunsoo kembali mengingat kejadian sebelumnya dan kembali
menatap dompet tipis itu. Dia ingat ketika membersihkan meja 11 yang terpencil
di dalam cafe. Dompet itu terletak dengan indahnya di atas meja. Seperti ada
yang menyuruh, eunsoo mengambil dompet tersebut dan memasukan nya ke dalam saku
celananya.bukan ingin mengambil isinya, tapi dia ingin mengembalikan dompet ini
dan berharap mendapatnya sedikit uang dari sang pemilik.
Tanpa keraguan sekit pun, eunsoo membuka dompet tersebut
untuk mencari identitas pemilik dompet. Tapi yang ditemukannya hanya sebuah
foto seorang yeoja manis di sebuah ayunan. Yeoja di dalam foto tersebut lebih
mirip dengannya-mungkin- karena jika dilihat dari dekat,matanya lebih mirip
dengan mata yeoja di foto itu. Eunsoo segera tersadar dari apa yang dibuatnya
dan segera memasukan foto tersebut ke tempatnya. Eunsoo kembali mencari cari
sebuah kartu identitas dan tapi hasilnya tetap sama.
Eunsoo yang kelelahan menanti bis yang tak kunjung tiba
memutuskan untuk berjalan dengan berharap sebuah taxi atau bis berhenti untuk menompanginya. Kakinya yang ramping
membawanya berjalan menyusuri trotoar yang cukup sunyi di malam yang gelap.
Tanpa takut sedikit pun eunsoo berjalan dengan santai sambil menyanyikan lagu
kesukaannya –happines suju-.
Sebuah bar yang setiap orang yang melewatinya pasti akan
melirik ngeri ke dalam bar tersebut dan berjalan dengan cepat sebelum
telinganya ditulikan oleh suara musik yang memekakan. Eunsoo yang cukup
terbiasa hanya melewati bar itu dengan santai tanpa mempercepat langkahnya.
Bibir tipisnya sesekali tersenyum ketika membisikan lagu lagu kesukaannya.
Kakinya berhenti sejenak untuk mengikat tali sepatu ketsnya dan kembali
berjalan dengan lamban. Tanpa diketahuinya, sekelompoknya namja-yang terdiri
dari 3 orang- tengah mengikuti eunsoo dengan ekor matanya. Tanpa curiga sedikit
pun, eunsoo malan berhenti sejenak melihat dompet di tangannya. Dia berfikir
sejenak dan membalikan tubuhnya untuk pergi ke kantor polisi –yang terletak di
sebelah halte bus-. Tapi nasib berkata lain. Namja namja tadi menghalangi
langkahnya dan malah menyudutkan eunsoo kedinding bangunan di belakang mereka.
Tak sedikitpun ketakutan di mata eunsoo ketika namja namja tersebut mendekati
dirinya.
“kenapa kau sendirian saja cantik?hmm?” seorang namja yang
wajahnya tak begitu terlihat mendekati nya dan memegang jari jari lentik
eunsoo. Keberanian eunsoo mulai goyah ketika jari dan dagunya mulai dipegang
oleh namja namja tersebut.dia juga pernah mengalami kejadian seperti ini ketika
sma, tapi tidak sejauh ini. Eunsoo kembali mundur hingga punggungnya beradu dengan
dinding ketika namja namja itu menyeringai ke arah dirinya sambil memperhatikan
lekuk tubuh eunsoo yang indah. Eunsoo mengigit bibirnya keras karena ketakutan
hampir mengenai puncaknya.
“hei jawab aku! Atau—“
“atau apa?” seorang namja pirang berjalan dengan gagah di
belakang mereka. Namja itu melirik eunsoo yang tersembunyi di balik tubuh tubuh
kurus tersebut.tau siapa yeoja tersebut, namja itu menarik eunsoo dan
mendengkapkan nya kedirinya sehingga namja namja itu sedikit kaget atas
perbuatan yang tiba tiba itu.
“apa yang kau lakukan dengan yeojachinguku?”
“yeoja—“eunsoo langsung diam ketika dekapan namja asing ini mulai
meng erat. Tanpa ba-bi-bu,3 namja gila itu mengambil langkah seribu ketika
namja pirang itu mendekati mereka.
Ada sedikit kelegahan di diri eunsoo mengetahui dirinya
selamat dari bahaya membuat eunsoo mengembangkan senyum manisnya. Pelukan
hangat yang diberikan namja asing ini membuat pikiran eunsoo berhenti sejenak
hingga suara berat dan parau membangunkannya dari lamunannya
“bukan kah nikmat dipeluk namja ganteng huh?” eunsoo segera
melepaskan pelukannya dari tubuh kurus namja tersebut. Wajah eunsoo yang
tadinya putih bersih menjadi kemerahan ketika menatap wajah namja yang tengah
menatapnya datar. Mulut namja itu tertutup rapat membuat eunsoo segera
membungkuk minta maaf dan memungut dompet kulit yang sempat terjatuh. Tanpa
memperdulikan teriakan namja itu, eunsoo menghentikan taxi yang sempat lewat di
sampingnya.
“sial!” eunsoo menghempaskan badannya dikursi dibelakang
sopir dan menyebutkan alamatnya. Dengan aggukan kecil, namja tua itu segera
membelah kota seoul dengan cepat. Tak perlu memakan banyak waktu, eunsoo sudah
berjalan keluar dari taxi dan memasuki bangunan tua yang nampak sunyi.
---***---
Kring...!kring...!kring..!
Seorang manusia yang tertidur nyeyak di balik selimut biru
tebalnya bergerak gelisah mendengar suara jam weker yang memekakan telinga. Jam
weker berbentuk doraemon itu terus mengeluarkan suara nyaring hingga sebuah
tangan dari balik selimut mematikan suaranya dan membuat sang pemilik tangan
tersebut mendesah lega. Bukannya segera bangun dan berjalan ke kamar mandi,
yeoja yang sangat acak acakan itu meraih handphonennya dan membaca pesan
singkat yang masuk. Beberapa panggilan dan sms membuat eunsoo –yeoja acak
acakan- berdecak kesal.
“kenapa dia terlalu cerewet sebagai namja?” eunsoo segera
beranjak dari kasur empuknya dan berjalan ke kamar mandi –setelah membersihkan
tempat tidur-. Setelah membersihkan dirinya, eunsoo beranjak memakai pakaian
favorite nya.baju rajut hangat dan celana jins-. Ia pun beranjak ke dapur,
mengambil beberapa roti dan mengolesinya dengan selai stoberi dan menunpuknya
hingga tinggi. Meminum sebotol susu yang telah diantarkan oleh tukang susu dan
memasukan beberapa buku –dan notebook hijau toskanya- ke dalam tas silver
lusuhnya. Eunsoo segera berjalan ke pintu, memakai sepatu biru tuanya yang juga
terlihat tua-sesuai dengan warnanya- dan mengambil mantel coklat yang
tergantung di sebuah benda yang berbentuk ranting –dan itu memang terbuat dari
ranting- yang berada di sebelah rak sepatu. Eunsoo berlari kecil ke arah lift
yang hampir menutup ketika ia telah mengunci apartemennya. Eunsoo mendesah lega
ketika lift itu belum sepenuhnya tutup, dan naasnya lagi, ajumma pembersih
apartemen juga ada di dalam lift yang sama dengannya. Sial!
“kau telat lagi eunsoo?aigoo” ajumma itu mengeleng. Kenapa
yeoja secantik eunsoo sering kali telat? Tapi itu tak ada masalah bagi
eunsoo.walaupun dia terlambat kemungkinan besar hukuman nya adalah mengepel
koridor atau apalah yang bersangkutan dengan bersih bersih. Dan itu juga sudah
terbiasa baginya.
Ajumma itu terus mengoceh tanpa henti, membuat eunsoo ingin
berteriak di depan wajah ajumma itu untuk supaya segera berhenti, tapi
diurungkannya niatnya. Tak mungkin dia berbuat sekeji itu di depan orang tua
–yang selalu memberinya nasehat-. Lift berdenting dan membukakan pintu untuk
eunsoo yang hampir masak di dalamnya. Eunsoo membungkuk pada ajumma tersebut
dan lari mengejar bus yang sepertinya akan meninggalkannya. Dan ternyata itu
benar.baru saja kaki kaki ramping eunsoo menginjakan halte, benda bewarna hijau
itu telah meninggalkannya –dan itu tak mungkin bisa dikejar dengan berlari-.
Eunsoo mengacak rambutnya yang dibiarkan tergerai dan berjalan perlahan
menyusuri trotoar yang penuh dengan orang orang yang sibuk dikejar waktu.
Sebuah mobil bewarna hitam menepi dan meng klakson eunsoo
yang tengah menunduk. Kaca hitam menurun secara perlahan menampakan sang
pemilik mobil.
“eunsoo ya. Perlu tompangan?” eunsoo segera menoleh ketika
mendengar suara yang sangat familiar baginya. Dan dugaan nya benar. Azuna
tersenyum manis ke arahnya dan menyapa dengan bahasa jepang yang sangat fasih.
“jika tak keberatan”eunsoo segera masuk ke dalam mobil
mungil tersebut. Tanpa banyak buang waktu, azuna membawa mobilnya membelah
seoul yang ramai. Keajaiban memang selalu datang tak terduga. Dahi eunsoo
mengernyit ketika melihat kardus bermotif polkadot berada di sebelah tangannya.
Dia tau ini bukan miliknya, tapi penasaran eunsoo yang besar segera memegang
kardus tersebut yang segera dicegah azuna.
“andwe. Ini untuk oppa, dia tadi memesan nya “ eunsoo
mengangguk mengerti. Tak ada niat untuk menanyakan siapa oppa yang dimaksud
azuna, eunsoo malah memutar lagu kesukaannya dari handphonenya. Tak berapa lama
kemudian, mobil hitam milik azuna terpakir rapi di parkiran kampus dan segera
turun dari mobil dengan membawa kardus tersebut.
“hmm, sepertinya dia belum datang” azuna menlirik jam tangan
ungu dipergelangan tangannya. Jam 8. Seharusnya ini waktunya untuk menyerahkan
kardus imut itu pada oppanya. Tapi mungkin oppanya sedang berhalangan.
“mana oppamu itu?” eunsoo berjalan ke arah azuna dan masih
melirik kardus polkadot itu.
“mungkin dia belum datang, kita kekelas saja dulu” eunsoo
mengangguk dan menyusul azuna yang telah dulu berjalan didepannya.
---***---
Kantin yang sangat luas nampaknya tak begitu cukup untuk
mahasiswa konkuk. Karena hampir semua siswanya berada dalam kantin besar ini
hingga keramaian dan antrian panjang terjadi di dalam kantin itu -hampir tak
menyisakan bangku-. Tapi untungnya eunsoo dan azuna mendapatkan bangku yang
penuh dengan manusia. Bangku panjang itu rasanya hampir patah karena saking
banyaknya beban yang ditampungnya. Eunsoo dan azuna nampak asik membicarakan
apapun yang menurut mereka menarik. Seperti cara mengedit foto dan video,
mengomentari yeoja gendut yang melewati mereka dan banyak hal lagi yang terus
mereka bicarakan.tiba tiba handphone milik azuna bergetar dan mengaharuskan
dirinya keluar untuk menjawab telvon tersebut.
“aku keluar sebentar” eunsoo mengangguk dan kembali memakan
sup cream jamurnya yang masih banyak.
Kantin yang tadinya
sangat ramai tiba tiba menjadi hening dan mulai terdengar bisik bisikan dan
pekikan kecil dari berbagai penjuru kantin yang luas. Seluruh mata yang ada di
dalam kantin itu meuju pada satu titik yang sekarang tengah memasuki kantin
dengan acuh. Namja yang menjadi pusat perhatian itu kini berjalan menuju tempat
pemesanan makan –tanpa terganggu dengan tatapan yang menghujamnya-. Namja itu
kini berjalan menuju sebuah mesin permen dan berdiri disana sambil mengecek
handphonenya. Namja itu segera pergi ketika seorang namja yang berpakaian serba
hitam –dan kaca mata hitam- mendekati nya. Namja itu mengangguk dan segera
pergi dari kantin yang sudah seperti kuburan itu. Eunsoo yang melihat kejadian
itu hanya mengernyit bodoh, teriakan kecil mulai terdengar lagi di sudut
kantin. Beberapa yeoja tersenyum tak jelas ketika melihat handphone mereka.
Eunsoo hanya menggeleng dan kemnbali melanjutkan makan nya. Azuna pun datang
dan langsung melahap makanannya canggung.
“kenapa kau?”eunsoo yang memeprhatikan gerak gerik azuna
yang asing membuat kerutan dikeningnya bertambah. Azuna hanya menggeleng kaku
dan meminum air mineralnya gugup.
“aku melihatnya” azuna menatap nanar eunsoo yang sekarang
hanya menatap datar azuna. Azuna memegang kepalanya yang berasa berputar jika
mengingat hal tadi.yang dilihatnya tidak salah. Dia benar benar melihatnya.
Kepala azuna seperti digoncang hebat dan perutnya seperti di aduk aduk. Azuna
memegang perutnya dan menatap cemas eunsoo.
-to be continue-

0 komentar