FF Super Junior - Love of Moment (Part 2)

Title            :Love Of Moment (Part 2) Autor          : Dhidiane Genre         : Frienship, Romance, family, Rating         : PG-1...

Title            :Love Of Moment (Part 2)
Autor          : Dhidiane
Genre         : Frienship, Romance, family,
Rating         : PG-15
Length        : Chapter 
Cast           : Eunhyuk, Siwon, Kyuhyun, Sungmin, jung eunsoo (OC) , hachikawa azuna (OC)
Disclaimer  : This is the original ff. comes from my mind and imagination. if there is a similar plot was only fortuitous similarity.


--***--
“eunsoo, antarkan pesanan ini ke meja 11.palli” yeoja berambut panjang-kemerarahan-karena-matahari- segera mengambil nampan berisikan coffe latte dan tiramisu.ia melangkahkan kakinya kearah meja yang terletak cukup terpencil dari meja yang lainnya.disana Seorang namja berambut pirang dan baju kaos creamnya tengah menikmati musik yang keluar dari headphonenya. Seperti yang diduga eunsoo, namja itulah yang membuat kehebohan kecil di cafe nya-kafe bosnya-. Kenapa tidak, beberapa yeoja genit nampak berteriak kecil dan mengabadikan wajah tampannya dengan handpone atau semacamnya. Eunsoo hanya bisa geleng kepala dan terus melangkahkan kakinya ke meja 11.
“silahkan menikmati pesanan anda tuan” eunsoo sedikit membungkuk dan sebelum membalikan tubuhnya, suara berat mengomentari pesanannya.
“bukankah aku sudah bilang, jangan tambahkan apapun ke makananku”eunsoo segera berhenti. Ia menggigit ujung bibirnya takut.dia yakin bahwa pesanan itu tak ada yang salah-dia yakin-. Eunsoo segera membalikan tubuhnya dan membungkukan beberapa kali  untuk meminta maaf.
“jeoseoimnita tuan” eunsoo masih pada posisi membungkuknya ketika mendengar suara tarikan nafas keluar dari pelanggannya.
“sudah lah. jangan siapkan apapun untuk ku. Aku tak akan pulang” kening eunsoo mengerut mendengar kata kata tadi. Tidak pulang apa maksudnya? Eunsoo berusaha menegakan tubuhnya ketika cekikian orang memenuhi pendengarannya.
Namja itu menutup handphonenya dan meraih telinga cangkir kopinya-dengan tangan masih memegang handphone-.Namja berambut pirang itu menatap eunsoo heran. Sebuah handphone mewah yang ada di tangannya membuat eunsoo ngeri-takut akan dilempar dengan benda mahal itu-. Eunsoo segera membungkukan badannya lagi
“apa yang kau lakukan?” eunsoo menegakkan badannya dan menatap heran namja pirang itu. Bagaimana mungkin pelanggan itu menyakan apa yang dilakukannya saat ini? Apa tak jelas di depannya ini seorang yeoja manis tengah meminta maaf padanya? Manusia yang aneh.
“jeoseoimnita tuan. Setau saya pesanan anda memang ini tuan” eunsoo menunjuk coffe latte dan tiramisu yang telah habis setengah nya. Eunsoo kembali mengerutkan dahinya melihat tiramisu yang-separuhnya-telah-masuk-kedalam-perut pelanggannya. Bukankah dia marah karena pesanannya tak sesuai dengan permintaannya?
“jadi? Kenapa kau meminta maaf padaku? Apa kau berbuat salah padaku?” suara dingin namja itu membuat tulang tulang eunsoo berasa membeku. Suara berat itu mendesah hebat melihat tak ada satupun respone dari eunsoo.
“mianhe, bukankah anda marah karena pesanan anda?” mata namja itu membesar mendengar pengakuan polos eunsoo. Suara tawa yang hampir tak bisa didengar keluar dari mulut pink namja itu. Bagaimana bisa ia tertawa sedangkan eunsoo hampir terbang ke angkasa saking takutnya?
“dasar yeoja pabbo. Siapa yang marah padamu?”namja itu menatap datar eunsoo yang sekarang ingin segera pergi dari sana sekarang juga. Cekikian pengunjung yang melihatnya benar benar membuat telinganya panas. Ingin sekali eunsoo berteriak untuk menghentikan cekikikan gila itu-kecuali dia ingin dipecat setelah itu-.
“eunsoo,apa yang kau lakukan disana?” seorang namja bertubuh tinggi dengan kaos putih berdiri di belakangnya. Mata  seperti pisau itu menatap tajam eunsoo seperti ingin mencongkel bola hitam itu. Eunsoo segera membungkuk dan berlari  ke dapur.tempat yang seharusnya ia berada.
Namja tinggi tersebut menggeleng dan duduk di depan namja rambut pirang tanpa meminta izin pada orang yang-lebih-dulu-duduk-disana. Tanpa memperdulikan namja angkuh didepannya, dia kembali melahap tiramisu yang tinggal beberapa bagian dan mengunyahnya perlahan, membuat namja angkuh di depannya resah.
“eunhyuk, apa yang kau lakukan pada pelayanku ha?”namja angkuh itu mulai resah dengan suasana sunyi ini-walaupun cafe itu penuh dengan orang orang yang bising-.namja itu menatap tajam namja pirang-yang namanya eunhyuk- tanpa melakukan gerakan yang aneh. Sedangkan eunhyuk tengah menikmati pesanannya tanpa meperdulikan apapun.sperti dunia ini hanya miliknya.
“eopseo. Dia hanya salah sangkah. Aku hanya marah pada pelayan dirumahku” eunhyuk mengepal tangannya dan menopang dagunya di antara kepalan itu.menatap namja sombong bernama kyuhyun itu tanpa ekspresi. Kyuhyun menatap namja itu sebentar sebelum kaki panjangnya membawanya ke ruangan pribadinya-yang terletak disebelah dapur-.
Eunhyuk. Namja dingin yang sangat pepuler di konkuk universitas. Bukan hanya dia, 2 orang temannya yang juga terkenal-mungkin lebih dari dirinya-. 3orang namja tampan yang selalu membuat heboh kampus tanpa ampun. Bukannya bosan atau apa, eunhyuk lebih menyukai kesunyian dari pada kehebohan yang membuang buang tenaga itu. Tapi tanpa ia pungkiri, dia harus menerima nasib seperti itu.
Eunhyuk kembali menyesap coffe latte yang sedikit lagi hampir habis. Mata hitamnya menatap lurus pada meja kasir-dan juga tempat pemesanan-. Seorang yeoja berambut panjang kemerahan yang diikat acak membuat eunhyuk semakin tertarik melihat yeoja tersebut. Seragam pegawai cream dan cemek hitam membuatnya tampak cocok dengan kulitnya yang putih bersih. Yeoja lucu. Itu lah yang terlintas ketika eunhyuk menatap yeoja yang tengah melayani pelanggannya. tanpa curiga atau apalah namanya,yeoja itu meminta maaf padanya beberapa kali tanpa mengetahui kesalahannya. Itu membuat perut eunhyuk terkocok jika mengingat wajah polos itu meminta maaf pada nya.
Bukan karena apa, eunhyuk merasa senang jika memperhatikan gerak gerik yeoja itu.iya menganggap itu lucu. Ketika tengah asik memandangi yeoja lucu nya, getaran di atas meja menyita pikirannya. Sebuah nama yang tak terlalu diharapkannya tertulis rapi di layar handphone mewahnya. Sebuah pesan singkat yang mampu membuat eunhyuk ingin melempar handphonenya membuat eunhyuk segera berjalan keluar tanpa memperdulikan sebuah benda yang tertinggal di meja. Benda yang sangat berharga baginya.
---***---
Malam semakin larut.kota seoul yang dingin karena angin penghujung musim gugur sesekali menayapa kulit eunsoo. kebanyakan orang lebih memilih tidur di rumah.tapi mungkin beberapa orang keluar dari istananya hanya untuk menghabiskan waktu atau melakukan suatu kegiatan yang menurutnya penting. Mungkin eunsoo salah satunya. Sejam setelah ditutupnya konna bean caffe-yang pemiliknya adalah kyuhyun- ,eunsoo tak juga beranjak dari tempatnya. Segunung piring dan alat makan lainnya bersabar untuk dicuci oleh eunsoo. Udara yang dingin yang terus menyapa kulit eunsoo tak membuatnya segera mengambil jaket untuk melindungi dirinya. Dia lebih fokus pada cuciannya yang sepertinya-belum-berkurang. Eunsoo mempercepat gerakan tangannya ketika jam biru yang ada di tangannya hampir menunjukan jam 12malam.
Malam semakin membuat seoul seperti kutub. Dingin yang sangat mencengkam membuat orang orang diluar sana mengeratkan jaketnya dan berjalan cepat ketempat tujuannya. Eunsoo yang berdiri di depan watafel selama hampir 2 jam mendesah lega melihat cuciannya tertata rapi di tempatnya. Segera di lepasnya sarung tangan karet pink dan karet gelang yang mengikat rambut kemerahannya. Eunsoo berjalan dengan cepat kearah loker-yang terletak paling belakang cafe- dan mengambil tas dan jaket yang tergantung di lokernya. Malam yang gelap tak membuat eunsoo takut untuk melangkahkan kakinya keluar dari cafe yang gelap. Bukannya takut,tapi eunsoo sudah terbiasa dengan malam seoul yang seperti ini, dan dia juga pernah mendapatkan serangan tiba tiba yang bisa membuat nyawa melayang.
Eunsoo semakin mempercepat langkahnya ketika jam ditangannya telah menunjukan jam 12tepat. Mungkin tak ada harapan untuk eunsoo segera pulang dengan cepat dan selamat. Bukannya menyerah dan mengehentikan taxi, dia malah duduk di halte bis menunggu benda hijau yang mengangkut puluhan orang berhenti di depannya.dia berharap masih bisa.
Alih alih berharap kedatangan bis, dia malah mendapatkan beberapa terpaan angit yang dingin ke tubuhnya. Jaket yang digunakannya seperti tak ingin melindunginya dari dingin. Eunsoo segera mengambil handphonenya di dalam tas sebelum menemukan sebuah benda coklat mengehentikan gerakannya. Sebuah dompet kulit yang tipis menyita perhatian eunsoo. Kenapa benda mewah ini ada di dalam tas nya? Eunsoo kembali mengingat kejadian sebelumnya dan kembali menatap dompet tipis itu. Dia ingat ketika membersihkan meja 11 yang terpencil di dalam cafe. Dompet itu terletak dengan indahnya di atas meja. Seperti ada yang menyuruh, eunsoo mengambil dompet tersebut dan memasukan nya ke dalam saku celananya.bukan ingin mengambil isinya, tapi dia ingin mengembalikan dompet ini dan berharap mendapatnya sedikit uang dari sang pemilik.
Tanpa keraguan sekit pun, eunsoo membuka dompet tersebut untuk mencari identitas pemilik dompet. Tapi yang ditemukannya hanya sebuah foto seorang yeoja manis di sebuah ayunan. Yeoja di dalam foto tersebut lebih mirip dengannya-mungkin- karena jika dilihat dari dekat,matanya lebih mirip dengan mata yeoja di foto itu. Eunsoo segera tersadar dari apa yang dibuatnya dan segera memasukan foto tersebut ke tempatnya. Eunsoo kembali mencari cari sebuah kartu identitas dan tapi hasilnya tetap sama.
Eunsoo yang kelelahan menanti bis yang tak kunjung tiba memutuskan untuk berjalan dengan berharap sebuah taxi atau bis berhenti  untuk menompanginya. Kakinya yang ramping membawanya berjalan menyusuri trotoar yang cukup sunyi di malam yang gelap. Tanpa takut sedikit pun eunsoo berjalan dengan santai sambil menyanyikan lagu kesukaannya –happines suju-.
Sebuah bar yang setiap orang yang melewatinya pasti akan melirik ngeri ke dalam bar tersebut dan berjalan dengan cepat sebelum telinganya ditulikan oleh suara musik yang memekakan. Eunsoo yang cukup terbiasa hanya melewati bar itu dengan santai tanpa mempercepat langkahnya. Bibir tipisnya sesekali tersenyum ketika membisikan lagu lagu kesukaannya. Kakinya berhenti sejenak untuk mengikat tali sepatu ketsnya dan kembali berjalan dengan lamban. Tanpa diketahuinya, sekelompoknya namja-yang terdiri dari 3 orang- tengah mengikuti eunsoo dengan ekor matanya. Tanpa curiga sedikit pun, eunsoo malan berhenti sejenak melihat dompet di tangannya. Dia berfikir sejenak dan membalikan tubuhnya untuk pergi ke kantor polisi –yang terletak di sebelah halte bus-. Tapi nasib berkata lain. Namja namja tadi menghalangi langkahnya dan malah menyudutkan eunsoo kedinding bangunan di belakang mereka. Tak sedikitpun ketakutan di mata eunsoo ketika namja namja tersebut mendekati dirinya.
“kenapa kau sendirian saja cantik?hmm?” seorang namja yang wajahnya tak begitu terlihat mendekati nya dan memegang jari jari lentik eunsoo. Keberanian eunsoo mulai goyah ketika jari dan dagunya mulai dipegang oleh namja namja tersebut.dia juga pernah mengalami kejadian seperti ini ketika sma, tapi tidak sejauh ini. Eunsoo kembali mundur hingga punggungnya beradu dengan dinding ketika namja namja itu menyeringai ke arah dirinya sambil memperhatikan lekuk tubuh eunsoo yang indah. Eunsoo mengigit bibirnya keras karena ketakutan hampir mengenai puncaknya.
“hei jawab aku! Atau—“
“atau apa?” seorang namja pirang berjalan dengan gagah di belakang mereka. Namja itu melirik eunsoo yang tersembunyi di balik tubuh tubuh kurus tersebut.tau siapa yeoja tersebut, namja itu menarik eunsoo dan mendengkapkan nya kedirinya sehingga namja namja itu sedikit kaget atas perbuatan yang tiba tiba itu.
“apa yang kau lakukan dengan yeojachinguku?”
“yeoja—“eunsoo langsung diam ketika dekapan namja asing ini mulai meng erat. Tanpa ba-bi-bu,3 namja gila itu mengambil langkah seribu ketika namja pirang itu mendekati mereka.
Ada sedikit kelegahan di diri eunsoo mengetahui dirinya selamat dari bahaya membuat eunsoo mengembangkan senyum manisnya. Pelukan hangat yang diberikan namja asing ini membuat pikiran eunsoo berhenti sejenak hingga suara berat dan parau membangunkannya dari lamunannya
“bukan kah nikmat dipeluk namja ganteng huh?” eunsoo segera melepaskan pelukannya dari tubuh kurus namja tersebut. Wajah eunsoo yang tadinya putih bersih menjadi kemerahan ketika menatap wajah namja yang tengah menatapnya datar. Mulut namja itu tertutup rapat membuat eunsoo segera membungkuk minta maaf dan memungut dompet kulit yang sempat terjatuh. Tanpa memperdulikan teriakan namja itu, eunsoo menghentikan taxi yang sempat lewat di sampingnya.
“sial!” eunsoo menghempaskan badannya dikursi dibelakang sopir dan menyebutkan alamatnya. Dengan aggukan kecil, namja tua itu segera membelah kota seoul dengan cepat. Tak perlu memakan banyak waktu, eunsoo sudah berjalan keluar dari taxi dan memasuki bangunan tua yang nampak sunyi.
---***---
Kring...!kring...!kring..!
Seorang manusia yang tertidur nyeyak di balik selimut biru tebalnya bergerak gelisah mendengar suara jam weker yang memekakan telinga. Jam weker berbentuk doraemon itu terus mengeluarkan suara nyaring hingga sebuah tangan dari balik selimut mematikan suaranya dan membuat sang pemilik tangan tersebut mendesah lega. Bukannya segera bangun dan berjalan ke kamar mandi, yeoja yang sangat acak acakan itu meraih handphonennya dan membaca pesan singkat yang masuk. Beberapa panggilan dan sms membuat eunsoo –yeoja acak acakan- berdecak kesal.
“kenapa dia terlalu cerewet sebagai namja?” eunsoo segera beranjak dari kasur empuknya dan berjalan ke kamar mandi –setelah membersihkan tempat tidur-. Setelah membersihkan dirinya, eunsoo beranjak memakai pakaian favorite nya.baju rajut hangat dan celana jins-. Ia pun beranjak ke dapur, mengambil beberapa roti dan mengolesinya dengan selai stoberi dan menunpuknya hingga tinggi. Meminum sebotol susu yang telah diantarkan oleh tukang susu dan memasukan beberapa buku –dan notebook hijau toskanya- ke dalam tas silver lusuhnya. Eunsoo segera berjalan ke pintu, memakai sepatu biru tuanya yang juga terlihat tua-sesuai dengan warnanya- dan mengambil mantel coklat yang tergantung di sebuah benda yang berbentuk ranting –dan itu memang terbuat dari ranting- yang berada di sebelah rak sepatu. Eunsoo berlari kecil ke arah lift yang hampir menutup ketika ia telah mengunci apartemennya. Eunsoo mendesah lega ketika lift itu belum sepenuhnya tutup, dan naasnya lagi, ajumma pembersih apartemen juga ada di dalam lift yang sama dengannya. Sial!
“kau telat lagi eunsoo?aigoo” ajumma itu mengeleng. Kenapa yeoja secantik eunsoo sering kali telat? Tapi itu tak ada masalah bagi eunsoo.walaupun dia terlambat kemungkinan besar hukuman nya adalah mengepel koridor atau apalah yang bersangkutan dengan bersih bersih. Dan itu juga sudah terbiasa baginya.
Ajumma itu terus mengoceh tanpa henti, membuat eunsoo ingin berteriak di depan wajah ajumma itu untuk supaya segera berhenti, tapi diurungkannya niatnya. Tak mungkin dia berbuat sekeji itu di depan orang tua –yang selalu memberinya nasehat-. Lift berdenting dan membukakan pintu untuk eunsoo yang hampir masak di dalamnya. Eunsoo membungkuk pada ajumma tersebut dan lari mengejar bus yang sepertinya akan meninggalkannya. Dan ternyata itu benar.baru saja kaki kaki ramping eunsoo menginjakan halte, benda bewarna hijau itu telah meninggalkannya –dan itu tak mungkin bisa dikejar dengan berlari-. Eunsoo mengacak rambutnya yang dibiarkan tergerai dan berjalan perlahan menyusuri trotoar yang penuh dengan orang orang yang sibuk dikejar waktu.
Sebuah mobil bewarna hitam menepi dan meng klakson eunsoo yang tengah menunduk. Kaca hitam menurun secara perlahan menampakan sang pemilik mobil.
“eunsoo ya. Perlu tompangan?” eunsoo segera menoleh ketika mendengar suara yang sangat familiar baginya. Dan dugaan nya benar. Azuna tersenyum manis ke arahnya dan menyapa dengan bahasa jepang yang sangat fasih.
“jika tak keberatan”eunsoo segera masuk ke dalam mobil mungil tersebut. Tanpa banyak buang waktu, azuna membawa mobilnya membelah seoul yang ramai. Keajaiban memang selalu datang tak terduga. Dahi eunsoo mengernyit ketika melihat kardus bermotif polkadot berada di sebelah tangannya. Dia tau ini bukan miliknya, tapi penasaran eunsoo yang besar segera memegang kardus tersebut yang segera dicegah azuna.
“andwe. Ini untuk oppa, dia tadi memesan nya “ eunsoo mengangguk mengerti. Tak ada niat untuk menanyakan siapa oppa yang dimaksud azuna, eunsoo malah memutar lagu kesukaannya dari handphonenya. Tak berapa lama kemudian, mobil hitam milik azuna terpakir rapi di parkiran kampus dan segera turun dari mobil dengan membawa kardus tersebut.
“hmm, sepertinya dia belum datang” azuna menlirik jam tangan ungu dipergelangan tangannya. Jam 8. Seharusnya ini waktunya untuk menyerahkan kardus imut itu pada oppanya. Tapi mungkin oppanya sedang berhalangan.
“mana oppamu itu?” eunsoo berjalan ke arah azuna dan masih melirik kardus polkadot itu.
“mungkin dia belum datang, kita kekelas saja dulu” eunsoo mengangguk dan menyusul azuna yang telah dulu berjalan didepannya.
---***---
Kantin yang sangat luas nampaknya tak begitu cukup untuk mahasiswa konkuk. Karena hampir semua siswanya berada dalam kantin besar ini hingga keramaian dan antrian panjang terjadi di dalam kantin itu -hampir tak menyisakan bangku-. Tapi untungnya eunsoo dan azuna mendapatkan bangku yang penuh dengan manusia. Bangku panjang itu rasanya hampir patah karena saking banyaknya beban yang ditampungnya. Eunsoo dan azuna nampak asik membicarakan apapun yang menurut mereka menarik. Seperti cara mengedit foto dan video, mengomentari yeoja gendut yang melewati mereka dan banyak hal lagi yang terus mereka bicarakan.tiba tiba handphone milik azuna bergetar dan mengaharuskan dirinya keluar untuk menjawab telvon tersebut.
“aku keluar sebentar” eunsoo mengangguk dan kembali memakan sup cream jamurnya yang masih banyak.
 Kantin yang tadinya sangat ramai tiba tiba menjadi hening dan mulai terdengar bisik bisikan dan pekikan kecil dari berbagai penjuru kantin yang luas. Seluruh mata yang ada di dalam kantin itu meuju pada satu titik yang sekarang tengah memasuki kantin dengan acuh. Namja yang menjadi pusat perhatian itu kini berjalan menuju tempat pemesanan makan –tanpa terganggu dengan tatapan yang menghujamnya-. Namja itu kini berjalan menuju sebuah mesin permen dan berdiri disana sambil mengecek handphonenya. Namja itu segera pergi ketika seorang namja yang berpakaian serba hitam –dan kaca mata hitam- mendekati nya. Namja itu mengangguk dan segera pergi dari kantin yang sudah seperti kuburan itu. Eunsoo yang melihat kejadian itu hanya mengernyit bodoh, teriakan kecil mulai terdengar lagi di sudut kantin. Beberapa yeoja tersenyum tak jelas ketika melihat handphone mereka. Eunsoo hanya menggeleng dan kemnbali melanjutkan makan nya. Azuna pun datang dan langsung melahap makanannya canggung.
“kenapa kau?”eunsoo yang memeprhatikan gerak gerik azuna yang asing membuat kerutan dikeningnya bertambah. Azuna hanya menggeleng kaku dan meminum air mineralnya gugup.
“aku melihatnya” azuna menatap nanar eunsoo yang sekarang hanya menatap datar azuna. Azuna memegang kepalanya yang berasa berputar jika mengingat hal tadi.yang dilihatnya tidak salah. Dia benar benar melihatnya. Kepala azuna seperti digoncang hebat dan perutnya seperti di aduk aduk. Azuna memegang perutnya dan menatap cemas eunsoo.

-to be continue-

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images