Let It Rains

Main Cast   : - Kim Yecha                          - someone yecha LOved Criteria       : Romance, Sad  ni cerpen pertama yan...



Main Cast   : - Kim Yecha
                         - someone yecha LOved
Criteria       : Romance, Sad 
ni cerpen pertama yang aku buat  untuk teman dekat ku*lirik kesebelah. jika ada persamaan nama, tempat atau yang lainnya itu hanya kebetulan yang tak disengaja. maaf kalau typo bertebaran dan jelek ^^. hapy reading^^


Let It Rain
Matahari nampak menyembunyikan sinarnnya di balik awan hitam yang memenuhi langit seoul. Udara yang tadinya hangat dan bersahabat tiba tiba berubah menjadi dingin. Mahasiswa konkuk university Nampak tak memperdulikan cuaca yang tiba tiba berubah sekena hati. Seorang yeoja Nampak duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon maple yang daunnya telah menguning. Yeoja berambut kemerahan itu sesekali menganggukan wajah mungilnya dan melingkari kata kata yang menurutnya susah dimengerti pada buku yang ada di pangkuannya. Awan hitam yang tadi masih kelabu kini telah menjatuhkan bulir bulir air dari langit. Sebahagian mahasiswa di universitas itu berlari menyelamatkan diri dan ada yang hanya berjalan santai tak mempedulikan dirinya basah oleh air. Yeoja yang duduk di bawah pohon maple itu segera menutup buku yang ada di pangkuannya tadi dan berlari kecil ke koridor sekolah.
Yeoja bernama kim yecha itu tersenyum ketika mendapatkan sepotong daun kering di atas kepalanya ketika dia memperbaiki ikat rambutnya. Daun itu di selipkannya ke dalam buku yang di pegangnya dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari tempatnya berdiri.
Langit semakin brutal menjatuhkan air air bulat dari langit membuat yecha harus rela menghabiskan waktunya di universitas itu atau lebih tepatnya duduk tersenyum sambil mentap seorang namja dari balik kaca yang membatasi ruang antara dirinya dan namja rambut pirang tersebut. Yecha sesekali tersenyum malu dan menutup mulutnya ketika namja itu membuat ekspresi wajah yang lucu pada temannya. Namja itu tertawa terbahak bahak ketika temannya melakukan gerakan yang membuatnya lucu, sedangkan yecha yang entah berapa lama berdiri di luar dengan setianya menatap namja yang sekarang sedang membereskan barang barangnya dan memasukannya ke dalam tas. Yecha yang sadar  bahwa namja itu akan meninggalkan kelas tersebut segera membalikan badannya dan bersembunyi di antara dinding yang bisa menyembunyikan badan mungilnya. Namja yang sempat mencuri waktu yecha itu melintas di depan yecha tanpa mempedulikan yecha yang sekarat ketika menatap wajah dan tatapan teduh namja itu.
“kau akan pergi ke tempat berisik itu?” Tanya teman namja yang disukai yecha tersebut. Namja itu mengangguk dan melakukan gerakan aneh yang membuat temannya tertawa
“tempat itu jika tak di kunjungi sekali bisa membuatku gila. Dia benar benar membuatku tertarik dan tak bisa keluar dari tempat berisik itu dan apalagi minumannya yang membuat siapa saja yang bisa lupa waktu” namja itu mengakhiri ucapannya dengan anggukan dan berpisah dengan temannya di ujung koridor. Yecha yang mendengar percakapan mereka hanya bisa menunduk dan berjalan dengan gontai meninggalkan koridor yang sepi. Yecha sudah tau,bahwa namja itu sangat suka melakukan kegiatan yang tak disukai yecha.
----00000----
“yecha! Bisakah kau lebih cepat sedikit?!” teriak seorang yeoja berambut pendek sebahu bergelombang dengan celemek merahnya dari arah dapur. Yecha yang baru keluar dari kamar mandi  berlari tergesa gesa kearah dapur karena mendengar suara cempreng yang terus memanggil namanya.
“ugh, kau selalu menyusahkanku” yecha mengambil sup jamur dari tangan yeoja itu dan meletakkannya di atas meja bundar di dapur. Yeoja ber-celemek merah itu tak merespon dan melanjutkan memasaknya. Yecha dengan sigap menata piring dan gelas di atas meja dan mengakhirinya dengan menuangkan jus apel ke dalam gelas.
“selesai. Hanya menunggu haneul ku yang cantik ini siap” yecha memeluk yeoja bercelemek merah itu dan mencubit pipinya yang cuby. Yeoja bernama haneul itu hanya memukul kepala yecha dengan sendok dan tersenyum.haneul melepaskan celemeknya dan bergegas duduk di atas kursi di sebelah yecha yang siap dengan sendok dan sumpitnya.
“jja. Mari habiskan makanan ini”yecha dengan sigap menghabiskan makanan yang telah dibuat haneul tadi dan memuji setiap makanan yang di makannya. Yecha makan dengan lahap dan tak memilih makanan apapun. sangat berbeda dengan hanel yang hanya memakan semangkuk sup jamur dan roti kering. Yecha pernah bertanya pada haneul kenapa makannya selalu sedikit dan pemilih dalam hal  makanan dan selalu mendapatkan jawaban memuakkan dari haneul ‘wanita itu harus menjaga tubuhnya tetap cantik. Namja tidak suka dengan yeoja gendut’. Menurut yecha itu pernyataan yang paling aneh baginya.
Setelah menghabiskan makanan yang tersaji tadi, yecha membersihkan meja makan dan mencuci piring piring yang kotor. Sedangkan haneul Nampak bersantai di depan tv sambil memutar acara favorite nya.
Langit malam seoul yang gelap membuat yecha dan haneul lebih betah berdiam diri di depan tv di temani dengan susu coklat panas dan berbagai macam snack yang di beli yecha sepulang kuliah. Haneul menatap yecha yang tertawa ketika melihat acara tv kesukaan mereka. Yecha yang merasa terganggu melihat tatapan haneul mengecilkan volume tv dan menatap jengkel haneul yang sekarang malah menatap tv.
“waeo? Apa kau ingin menanyakan sesuatu?”haneul tak menjawab pertanyaan yecha. Dia mengambil keripik kentang dan mengunyahnya cepat. Yecha masih menatap haneul yang masih berpura pura tak tergangu dengan tatapan tajam yecha. Yecha ber-dehem dan membuat haneul segera menatapnya.
“ugh, baiklah. Kau masih menunggunya?” yecha yang tau arah pembicaraan haneul hanya diam dan menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.
“sudah ku duga. Bukankah kau tau dia sudah memiliki yeojachingu? Jadi apa yang kau tunggu darinya?” yecha memainkan jarinya di atas buku yang baru setengah di bacanya sambil mendengarkan ocehan haneul. Haneul mendesah kesal melihat perilaku yecha yang membuatnya muak.
“yecha seharusnya kau –“
“arrasoe. Aku akan melupakannya” yecha dengan cepat memotong ucapan haneul dan berjalan ke arah kamarnya. Haneul tediam melihat sikap yecha yang tiba tiba berubah.
“tadinya aku ingin mengatakan bahwa dia— ah lupakan” haneul mematikan tv dan berjalan memasuki kamar yecha yang cukup berantakan. Dilihatnya yecha berada di  bawah selimut dengan seluruh badannya di bungkus dengan selimut biru tebal miiliknya. Haneul hanya tersenyum dan merebahkan badannya di samping haneul.

------00000------
“gamzamita” ucap seorang yeoja di balik meja kasir ketika pelanggan pergi meninggalkan toko. Yecha menghapus keringat yang ada didahinya. Sejak tadi pagi dia terus bekerja sampai malam tanpa henti.  Dia sesekali tersenyum ketika melihat jam yang ada di dinding toko. Seorang namja separuh baya Nampak sejak tadi memperhatikan yecha sambil menyusun kardus di sudut belakang toko.
“ambil ini” namja itu melemparkan minuman dingin ke pada yecha ketika yecha sedang asik menghitung uang di dalam mesin kasir. Namja itu terkekeh kecil ketika melihat wajah yecha yang terkejut ketika sebuah botol minuman terlempar ke arahnya.
“o—oh, gamzamita boss” yecha tersenyum dan mulai meminum minuman isotonic tersebut. Namja separuh baya yang di panggil bos oleh yecha menggeser kursi di sampingnya ke depan meja kasir dan duduk di atasnya.yecha kembali melanjutkan aktivitas nya tanpa di sadarinya namja yang dipanggilnya bos itu memperhatikan gerak geriknya.
“kau bekerja keras sekarang hmm?” boss itu meneguk minuman isotonic nya dan mengalihkan pemandangannya ke jalanan yang tak begitu ramai. Yecha sekilas tersenyum kea rah bosnya dan kembali menghitung uang.
“ya begitulah” jawab yecha pendek dan menyapa pelanggan yang datang masuk ke dalam toko
“apa kau memerlukan uang?” yecha sontak terkejut mendengar pernyataan bosnya. Ia mengangguk ragu dan memasukan semua uang ke dalam mesin kasir. Bosnya meremas pelan bahu yecha dan tersenyum kecil
“eomma mu pasti memerlukan uang bukan?” yecha hanya menunduk menyembunyika wajah sedih dan malunya. Bos nya tersenyum kecil dan meletakkan tangan besarnya ke atas kepala yecha
“arraseo. Kau bisa mengambil gaji mu lebih cepat sedikit dan aku akan menyumbang separuh uangku” yecha menatap bosnya berbinar dan meraih tangan bosnya.
“gamzamita bos. Jeongmal gamzamita” yecha meremas tangan bosnya sebelum bosnya pergi meninggalkannya karena pelanggan akan membayar barang yang dibelinya.
-----000000-----
Langit mendung kembali menyelimuti kota seoul. Sebagian orang lebih banyak mengahbiskan waktunya di dalam ruangan dari pada keluar dengan cuaca seperti ini. Yecha yang belum ingin pulang mengahbiskan waktunya di dalam ruang seni sambil melukis pemandangan di luar. Yecha Nampak begitu kosentrasi dan tak mempedulikan keadaan di sekitarnya.
Sebuah bola putih dengan corak hitam segi lima berguling masuk ke dalam ruangan seni. Seorang namja berkulit putih,jangkung dan memiliki rambut pirang Nampak setengah berlari ke dalam ruangan tersebut dan segera mengambil bola. Ketiak namja itu berdiri,dia terperangah ketika melihat ekspresi wajah yecha yang sedang melukis ketika memasuki ruangan kecil tersebut. Entah apa yang salah dengan namja itu, dia betah berdiri di tempat yang sama dan menatap yecha tanpa mengalihkan pandangannya. Mata namja itu melebar ketika sebuah senyuman terkembang di wajah mungil yecha
Buk!
yecha menoleh kea rah suara tersebut dan kaget siapa yang di lihatnya. Seorang namja jangkung berdiri di awang pintu dengan wajah shock nya. Yecha mendehem dan memalingkan wajahnya malu bercampur senang. Namja itu tersadar dari lamunannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal
“eumm.. itu—tadi—mianhe, t—tadi bola ini mengelinding ke sini” ucap namja itu gugup. Yecha hanya menunduk dan tak merespone ucapan namja tadi. Namja itu semakin salah tingkah melihat ekspresi yecha yang datar.
“geure, silahkan lanjutkan pekerjaanmu” namja itu tersenyum dan berjalan meninggalkan ruangan itu sebelum bola yang di ambilnya jatuh lagi. Yecha masih menunduk ketika namja itu sudah menghilang dari pintu. Entah kenapa jantung yecha benar benar diluar kendali. Yecha segera membereskan lukisannya dan berjalan keluar sebelum hujan kembali turun.
----00000---
Dentuman music mengalun keras di sebuah bar. Lampu berbentuk bulat dengan berbagai macam warna menyebarkan warnanya di seluruh ruangan yang penuh dengan manusia manusia yang menggila karena dentuman music. Seorang namja Nampak mengelus lembut rambut seorang yeoja. Perlahan yeoja itu mendeatkan dirinya pada namja itu dan tangan mungilnya mulai membelai lembut wajah mungil namja itu. Detik berikutnya namja itu menyentuh dagu yeoja itu dan menarik wajah itu untuk mendekat.
 Yecha terbangun dari tidur nya. Dadanya naik turun mengingat mimpi buruk yang baru dialaminya. Minpi yang terus menghantuinya sejak memasuki  ruangan terlarang itu. Ruangan dengan manusia yang menggila oleh music yang membuat telinga yecha bisa tuli. Yecha dengan cepat turun dari tempat tidurnya ketika mengingat dia harus bekerja dan pergi ke rumah nya di sebuah kota kecil di seoul.
Tak butuh waktu lama, yecha sudah bersiap dengan jaket tipis kuningnya, sepatu kets biru tua dan sebuah topi menghiasi kepala nya dan tak lupa juga yecha membawa sebuah tas selempang dengan isinya yang akan diberikan pada eommanya nanti.
Setelah menaiki bus dengan susah payah karena jam pulang sekolah membuat bus tersebut penuh dengan mahasiswa.tak butuh waktu berapa lama, bus tersebut berhenti di halte bus myeondong dan  berlari ke sebuah bangunan yang tak terlalu besar yang terletak di tengah tengah myeondong. Yecha tersenyum lebar ketika telah sampai pada tempat kerjanya. Dia hanya terlambat 2 menit dan itu tidak terlalu buruk baginya.
“yecha, tumben kau cepat datang walau terlambat beberapa menit” ucap seorang sunbe yang berdiri di belakang meja kasir  ketika yecha memasuki tempat kerjanya dan berjalan ke arah pintu yang ada di belakang kasir.
“hehe, bukan kah itu lebih bagus sunbe?” yecha tersenyum dan berjalan ketempat lokernya.
--0000----000—
Sebuah bus bewarna hijau berhenti di halte bus dengan  3 orang di sana. Yecha dengan semangat memasuki bus tersebut dan memilih duduk paling belakang. Di sana ada seorang namja dengan kepalanya ditekuk.
“sepertinya dia tertidur” yecha tersenyum melihat ekspresi wajah namja itu dari balik syal tebal yang dipakainya. Yecha mengeluarkan sebuah buku dengan sampul biru laut penuh dengan motif motif lucu. Sesekali yecha menggaris bawahi kata kata yang menurutnya menarik dan tersenyum ketika membaca kata kata yang menurutnya unik. Tanpa disadarinya namja yang tidur di sebelahnya tadi tengah menatapnya dengan senyum tipis di wajahnya. Yecha tanpa sengaja menoleh ke arah kanannya dan melihat namja tetridur tadi tengah menatapnya
“oh, s-sunbe nim” ucap yecha terkejut ketika namja itu mengangkat tangannya dan mengangguk. Yecha segera menutup bukunya dan membuang wajahnya ke arah jendela di sebelahnya. Namja yang di panggilnya sunbenim tadi terkekeh kecil dan mendekatkan diri  ke arah yecha.
“kau bukankah yeoja yang ada di ruang seni bukan?” Tanya namja itu sambil berusaha melihat wajah yecha yang di sembunyikan di sudut kaca bus. Yecha hanya mengangguk dan kembali berusaha menatap namja yang kini sudah tak melihat wajahnya lagi. Yecha menatap namja yang kini menatap lurus kedepan dan tak mempedulikan yecha yang sedang mengerjap ngerjapkan matanya tak percaya
‘kenapa dia disini? Apa dia menguntitku?’pikir yecha yang masih menatap namja yang sekarang celingukan menatap pemandangan sekitarnya
“tadi aku baru balik dari rumah kim woo, dan ternayata aku baru tau kalau aku tersesat”namja itu ampak panic dan mengecek handphone nya
“argg, kenapa harus low batt?” namja itu memukul handphonenya sebelum yecha tertawa melihat tingkah lucu namja tersebut
“waeo?” ucap namja itu kesal sambil menunjukan ekspresi wajahnya yang lucu. Bukannya takut,yecha malah tambah tertawa melihat ekspresi wajahnya.
“hahaha, sunbe nim. Kau seperti anak kecil. Kenapa kau tidak meminjam handphone ku saja?” yecha memasukan tangannya kedalam tas selempang coklatnya. Wajah yecha yang tadinya ceria berubah menjadi khawatir ketika merasa bahwa handphonenya hilang
“waeo?” namja itu menatap aneh yecha yang sekarang tengah mengeluarkan semua benda dari tas nya. Yecha menatap sedih sunbenya.
“handphone ku hilang. Eotoke?” yecha memasukan dengan asal barang barang yang dikeluarkan nya tadi ke dalam tasnya. Yecha memperbaiki duduknya dan berfikir di mana jatuhnya handponenya
“ku rasa tertinggal di supermarket” yecha mengangguk dan menoleh ke arah namja yang menatap nya tekejut.
“ternyata kau lucu juga yah” namja itu tersenyum dan menyandarkan punggungnya ke bangku bus. Mereka pun terlarut ke dalam dunia masing masing nampa disadari mereka telah sampai ke tempat tujuan. Yecha menatap namja yang juga turun dari bus dan mengikutinya jalan
“kenapa sunbe mengitu ku?” hana menatap aneh namja yang sekarang menatap kea rah sekelilingnya. Yecha kembali memanggil namja itu tapi tak ada respone darinya. Sepertinya namja itu terhipnotis dengan pemandangan indah di kota tersebut. Yecha yang jengkel melihat sunbenim nya berjalan meningalkan namja yang masih terpesona oleh pemandangan tersebut.
“sunbe!!” teriak yecha merasa namja itu masih tidak mengikutinya.
“yolan sunbe-nim!!” dengan lantang yecha menyebutkan namja itu. Namja bernama woo jin tersebut segera menoleh kea rah yecha dan berlari mendekat
“ahh, mianhe. Aku terlalu terpesona dengan pemandangan ini. Apakah ini desa?apa itu kawah?” Tanya yolan tanpa mengalihkan pemandangannya dari sebuah danau dengan semak semak tinggi memagarinya.  Yecha mengikuti arah tatapan woo jin dan mengerti apa yang di maksudnya yecha pun menjawab dengan sesekali kekeh kecil khas nya
“ani. Ini kota kecil, tak begitu terkenal karena letaknya begitu terpelosok dan itu danau bukan kawah”yecha mulai melangkah pelan dan diikuti oleh yolan di sampingnya. Langit yang tadi gelap bertambah gelap karena uap air telah bertumpuk disana. Yecha mempercepat langkahnya takut hujan segera turun. Tapi keberuntungan tak berpihak padanya. Hujan tiba tiba turun dengan lebat, dengan reflek yecha mengandeng yolan berlari menuju sebuah rumah tradisional korea yang letaknya tak jauh dari danau tadi
----0000000------
Yecha tertawa kecil melihat pakaian yang di pakai yolan. Baju kaus kekecilan dan celana training hitam yang sudah luyu. Woo jin dengan canggung duduk di sebelah yecha yang tengah menyeduh teh panas untuk nya. Seorang yeoja separuh baya Nampak tersenyum ketika melihat yolan yang terus menarik narik ujung lengan kausnya karena begitu kecil bagi yolan. Yeoja itu membawa beberapa makanan untuk pelengkap minum teh dan menyerahkan sebuah selimut kecil ke arah yolan. Dengan anggukan cangguk yolan menerima sselimut tersebut dan menyembunyikan badan kurusnya di balik selimut tersebut
“aigooo, namjachingumu ini begitu gagah oh?” yeoja itu mengelus lembut lengan yolan. Yolan menatap terkejut yecha dan bergantian menatap yeoja yang masih mengelus lengannya.
“anio amma. Dia sunbe-nim ku.” Bantah yecha sambil menyerahkan secangkir the hangat pada yolan. Seorang namja yang umur nya tak jauh beda dari yeoja yang dipangiil amma tadi mendecak lidah nya ketika mendengar ocehan yecha tadi
“aiss, kau ini. Kalau kalian pacaran itu juga tak masalah bagikul. Asalkan dia bisa menjaga mu dengan baik” namja itu mengatakan kata kata itu dengan mudah tanpa melepaskan pandangannya dari pedang panjang yang tengah di besarkannya
“appa. Apa yang appa katakana tadi?” yecha melirik yolan sekilas dan melihat yolan membuang wajahnya ke halaman luar yang telah asah oleh air hujan yang turun. Sore itu ruangan kecil yang hangat penuh dengan kejutan bagi yolan. Yolan yang pertama kali melihat coletehan yecha yang jarang di tunjukannya pada orang orang yang dikenalnya, melihat appa yecha yang wajahnya garang ternyata sangatlah lucu dan ternyata dia adalah manta tentara yang pensiun karena kakinya patah saat berperang dengan korut dan amma yecha yang begitu lembut dan hangat yang ternyata dulunya adalah seorang seniman terkenal di kota kecil tersebut. Sedangkan yecha adalah anak tunggal dan dulunya memiliki seorang kakak tapi meninggal ketika berumur 2 tahun karena sakit yang melandanya. Yolan begitu tertarik dan tenang berada di tengah tengah keluarga seperti ini.
“sunbe, kau ingin makan?biar ku ambilkan” yolan memegang tangan yecha ketika hendak mengambilkan nasi dan pelengakpnya untuk yolan. Yecha menatap yolan terkejut dan yolanpun segera melepaskan tanganya dari pergelangan yecha ketika deheman dan tawa appa yecha yang menyadarkannya
“gomawo.aku sudah kennyang dengan kue yang dibuat amma mu tadi” yolan tersenyum untuk meyakinkan yecha. Yecha hanya mengangguk dan kembali duduk di sebelah yolan.mereka kembali terdiam. Hujan diluar sana masih belum berhenti. Tanah semakin becek karena hujan dan jalanan Nampak licin. Yolan dengan kagum menatap pekerjaan apa yang dilakukan oleh amma yecha. Sebuah guchi yang lumayan tinggi dicatnya dengan teliti dan halus. Yolan yang pertama kali melihatnya menatap yecha untuk menanyakan tentang kegiatan itu
“itu hobi amma ku dank arena ammaku lah aku bisa sekolah di universitas konkuk sekarang” yecha menatap ammanya dengan senyuman yang bisa membuat yolan yang sekarang seperti patung melihat yecha. Senyuman yang sangat jarang dilihat oleh orang orang terdekatnya dan termasuk haneul. Yecha menoleh kea rah yolan dan segera menyadarkan yolan dari lamunannya.
Mereka kembali diam dan sayup sayup terdengar suara merdu yang berasal  dari ruang tamu. Ternyata itu suara telvon. Setelah appa yecha mengangkatnya, appanya kembali dengan membawa sebuah amplop kuning tipis dengan tulisan b.inggris di depannya. Appa menyerahkan amplop itu pada yecha yang menatap heran amplop tersebut.
“kemaren kenalanku memerlukan seseorang untuk studionya di itali. Jadi dia memerlukan seorang seniman muda untuk merancang ide ide bagus untuk film dan iklannya” sejenak appa yecha menghentikan ucapannya untuk member jeda supaya yecha dapat menangkap pembicaraannya tadi. Yecha hanya diam dan masih pada posisi duduknya tadi. Appa pun kembali melanjutkan perkataannya tadi
“jadi aku merekomendasikanmu sebagai karyawan untuknya. Dan kuharap kau bisa menerimanya karena kau akan bersekolah di sekolah seni ternama disana secara gratis dan mendapatkan pengalaman menjadi perancang sebelum kau benar benar resmi bekerja setelah kulaih besok” appa yecha mengakhiri ucapannya dengan senyuman yang menenangnkan dan meninggalkan yecha  yang mematung di tempatnya.bekerja di Canada? Sendiri?. Yecha dengan ragu menatap yolan yang ternyata juga mematung di tempatnya
----00000-----
Haneul menatap kosong kearah map kuning yang tergeletak di atas meja makan. Sesekali haneul membuang nafasnya berat dan melirik yecha yang sekarang tengah menatap kosong map kuning yang di depannya. Ntah pilihan apa yang harus yecha ambil. Jika dia menolaknya, appa dan ammanya akan sedih Karena mereka mengharapkan yecha bisa berkarir di luar negeri dan kembali kekorea sebagai ahli seniman ternama dan jika dia menerimanya dia tak ingin meninggalkan teman temannya dan keluarga tercintanya, apalagi seseorang yang hampir membuat hari harinya penuh dengan kejutan.
“kau ingin menerimanya?” haneul menatap sedih yecha yang kini menatap sendu haneul . siapa seorang  akan relaa ditinggalkan jauh oleh sahabatnya? Jika ada, itu bukan termasuk haneul.yecha menggeleng lemah dan membenamkan wajahnya di dalam boneka beruang yang dipeluknya saat ini.
“molla” yecha beranjak dari duduknya dan berjalan kea rah pintu dan meraih jaket yang tergeletak di atas kursi. Haneul menegakkan badan nya ketika melihat yecha measang sepatunya dan mengambil topi yang tergantung di balik pintu.
“ya! Eodiseo?”  heneul segera berdiri melihat yecha yang mulai memutar ganggang pintu. Yecha sekilas menatap haneul dan berjalan keluar dari rumahnya
“aku keluar sebentar membeli beberapa makanan” ucap yecha setengah berteriak dari luar rumahnya. Dia berjalan dengan gontai ketika menuju lift. Sepanjang perjalanannya, yecha hanya seperti orang bodoh yang tau harus pergi kemana sampai dia menemukan sebuah bangunan yang cukup besar dengan orang yang selalu keluar masuk ke dalam bangunan tersebut. Bangunan yang mengingatkannya dengan masa lalunya yang sangat sakit. Tanpa dikomando oleh siapapun, kaki yecha melangkah dengan ringannya ke dalam bangunan itu tanpa khawatir sedikitpun. Lorong panjang dengan karpet merah yang menghiasinya dan beberapa orang dengan pasangan tengah melalukan perbuatan yang tak patut  dilihat. Yecha menatap ruangan yang di penuhi dengan orang orang ang gila meliuk liuk an badannya di lantai dansa karena mendengar suara music yang berdentum keras. Yecha pun memilih duduk di depan meja bartender yang cukup sepi dan memesan sebuah minuman non-alkohol.
Yecha menebarkan pandangan ke sekelilingnya. Orang orang masih asik dengan goyangan ‘cacing’nya di lantai dansa dan beberapa orang bersama pasagannya melupakan dunia sebenarnya. Yecha dikejutkan dengan kehadiran seorang namja asing yang melingkarkan tangan kekarnya kebahu kecil yecha. Yecha menatap nya aneh dan melepaskan tangan besar itu dari bahunya
“hei, aku minwook. Apa kau sendirian?”namja itu menarik sebuah kursi agar bisa dekat dengan yecha. Yecha tak meresponenya dan merasakan tangannya namja itu mulai mengelus lembut rambutnya yang panjang yang ditutupi oleh topi hitam miliknya. Yecha meremas gelas yang ditangannya. Dia benar benar takut. Apa yang harus dilakukan seorang yeoja di tengah bar yang diganggu oleh namja aneh dan dia tak memiliki kemampuan apapun selain seni dan memasak?
“cogie. Bisakah kau melepaskan tanganmu dari rambutnya?” yecha menoleh ke sumber suara tersebut. Seorang namja tinggi berambut pirang dengan kaca mata hitam bertenngger di mata sayunya. Namja aneh tadi menyingkirkan tangannya dan berjalan meninggalkan namja dan yeoja tersebut. Yecha merasa lega karena terselamatkan oleh namja baik tersebut.
“gamzamita sunbe-nim”yecha membungkuk dan kembali meneguk minuman yang sepenuhnya belum habis. Yolan mengangguk dan mengambil posisi duduk di sebelah yecha yang sekarang tengah membaca pesan yang dikirim ke handponenya.
“nugu?” Tanya yolan sambil mengarahkan dagunya ke handpone yang dipegang yecha. Yecha menatap handponenya dan kembali menatap yolan
“haneul menyuruhku pulang. Tapi aku belum niat” yecha kembali meneguk minumannya dan diam beribu bahasa. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing masing tanpa mempedulikan satu sama lain.
“hmm, kenapa sunbe-nim bisa ada disini?” Tanya yecha ragu dan menundukan wajahnya ketika tiba tiba yolan menatapnya tak percaya.
“aku kerja paruh waktu disini” yecha merasa ada bidadarii yang menyiram hatinya saat ini. Dia tersenyum tipis tanpa yolan tau.
“aku tiggal sendiri di rumahku yang besar. Aku tinggal bersama amma dan pelayan pelayanku.sedangkan appa sibuk dengan pekerjaannya walaupun dia bisa menyempatkan diri untuk bersenang senang denganku. Dirumah besar itu benar benar membosankan apalagi hanya aku,amma dan pelayan kaku yang menghuni rumah itu hampir tiap hari.amma juga tidak keberatan untuk mengizinkanku bekerja, menurutnya itu pilihan yang bagus”yolan mendecak lidahnya dan menerima minuman yang tadi sempat dipesannya
“jadi sunbe-nim bekerja untuk menghilang bosan dirumah??” yecha menatap polos yolan. Yolan sampai tak bernyawa melihat wajah polos yecha yang bisa dikatakan hampir dekat itu. Yolan mengangguk dan membuang mukanya karena perbuatan yecha.
“ohh. Jadi yeoja yang kau goda waktu itu?” yecha membulatkan matanya karena secara tiba tiba dia mengucapkan kata kata yang seharusnya tak harus diucapkannya
“haneul pernah kesini dan melihat sunbe bersama seorang yeoja, jadi dia menceritakan nya padaku” yecha mengutuk dirinya karena berbohong pada sunbenya. Yolan hanya terdiam dan menatap yecha yang sekarang tengah asik melihat adegan dance yang ada di lantai dance.
“aaa, waktu itu dia mabuk dan mecium seorang yeoja yang lewat didekatnya. Jadinya yeoja itu dicium olehnya dan mendapat tamparan dan tendangan maut” ucap seorang bartender yang lewat didekatnya. Yolan menatap nya tajam dan membuang wajahnya karena malu melihat yecha yang sekarang menatapnya heran
“sunbe suka minum?” yolan mengangguk kecil. Yecha memaklumi kesukaan yolan karena itu wajar. Yecha merasa lega karena ternyata itu bukan disengaja. Hatinya serasa lebih ringan dari pada biasanya. Seukir senyuman menghiasi wajah mungilnya
“oh, apakah kau jadi menerima beasiswa itu?” belum jadi yecha merasakan kebahagian sekarang di tanyakan pertanyaan yang sempat dilupakannya tadi. Yecha menunduk menatap sepatu kets dongkernya. Apa yang harus dijawabnya? Sedangkan hatinya masih gundah karena apa dia harus memilih iya atau tidak pergi.
“kurasa aku menerimanya” akhirnya itu pilihan yang harus dikatakan yecha. Dia menyesali jawabannya karena dia belum pasti akan menerimanya atau belum.
“baguslah. Jika kau menolaknya kau pasti dimusuhi oleh orang orang. Mendapatkan beasiswa keluar negeri itu sangatlah payah. Jika kesempatan itu datang dank au menolaknya berarti kau orang palng bodoh di dunia” yecha menatap yolan tak percaya. Yolan yang sering membuat teman temannya tertawa terpingkal pingkal, yolan yang biasanya sangat ceroboh dan kekanak kanakan ternyata memiliki sisi dewasa. Hati yecha masih ragu mendengarnya. Apakah dia tepat untuk enerima beasiswa itu atau tidak
“jika kita tidak menerimanya karena orang yang kita cintai itu ada disini, bukankah itu pilihan yang bijak?” yecha menyoba memberanikan dirinya untuk menanyakan pertanyaan yang sejak tadi menganggunya. Yolan tersenyum manis dan menepuk pelan kepala yecha hingga wajah yecha yang putih berubah menjadi merah.
“kau tau. Itu sama saja dengan memberikan apa yang kita miliki pada orang lain. Kalau kau seperti itu berarti kau orang yang paling egois yang pernah ku temui.. hanya karena cinta yang itu benar benar cita sejati kita atau tidak, kau malah melepaskan mimpi mu seperti itu saja. Sama dengan melepaskan burung merpati putih cantik yang mahal.” Yolan memperbaiki duduknya dan menatap yecha yang tengah memikirkan sesuatu. Yolan diam diam akan merinndukan wajah polo situ suatu saat nanti.
“kalau kita merasa tak merelakannya pergi takut akan diambil orang lain dan dia akan melupakan kita bagaimana?” yecha kembali menatap polos yolan. Yolan harus beberapa kali menyadarkan dirinya dari lamunannya ketika menatap wajah dan mata bulat itu.
“percayalah. Jika dia jodohmu pasti dia akan datang padamu” yecha tersenyum dan memegang kedua tangan yolan
“gamzamita sunbe-nim. Kurasa aku tak salah mengambil keputusan” yecha segera melepaskan tangannnya dari tangan yolan ketika handponenya berdering.
“ne.. aku akan pulang” yecha segera berpamitan pada yolan dan berjalan keluar dari bar tersebut.yolan menatap punggung yecha yang menghilan di antara orang orang yang sibuk dengan gerakan gila mereka. Entah kenapa dia merasa lebih dekat dengan yecha akhir akhir ini.
----00000----
Sebuah lukisan dengan bingkainya yang bewarna coklat keemasan membuat lukisan itu terkesan lebih mahal dan langka siapa saja yang melihatnya. Yecha membawa lukisan itu kesebuah ruangan yang tak terlalu besar dengan dipeuhi kanfas kanfas kosong dan kaleng kaleng cat yang berserakan di lantai. Yecha menatap seorang namja yang Nampak tengah melukis sesuatu di kanfas putihnya. Namja itu Nampak serius sehingga yecha ragu untuk memanggilnya.
“kau bisa kesini sebentar yecha?” yecha yang tadi nya ingin meninggalkan ruangan itu tak jadi karena namja itu sudah tau keberadaan nya disana
“ne seongsanim” yecha dengan lukisannya pun berjalan kea rah namja tersebut. Yecha Nampak kagum melihat lukisan yang dibuat seongsanim tersebut. Sebuah lukisan burung dengan membawa sebuah tangkai bungai diparuhnya. Ini bukan yang pertama kalinya yecha melihat hasil lukisan seongsanimnya. Seongsanimnya itu melihat lukisan yang dibawa yecha. Yecha yang sadar pun menyerahkan lukisan tersebut dan menunggu apa yang harus didengarnya
“aku tak pernah menyesal menjadi gurumu,yecha. Lukisanmu selalu mendapat hasil yang luar biasa” ucap seongsanim tersebut sambil melihat detil detil lukisan yang dibuat yecha. Yecha membungkuk sedikit untuk berterima kasih karena hasil kerja keras dia selama ini mendapat nilai yang bagus dari seongsanimnya
“ne. kurasa kau tak usah takut dengan nilai mu” seongsanim itu membubuhkan tanda tangannya pada kanfas yang belum terkena cat sebagai tanda penilainnnya dan memberikannya pada yecha
“gamzamita seongsanim” yecha membungkuk dan berjalan meninggalkan seongsanimnya.belum sempat yecha melangkahkan kakinya keluar pintu, seongsanimnya kembali memanggil namanya.
“apakah kau mendapat beasiswa keluar negeri yecha?” yecha membalikan badannya dan mengangguk menjawab pertanyaan seongsanimnya
“baguslah. Kuharap kau tak menolaknya. Karena itu peluang besar bagimu yecha” yecha menatap bingung seongsanimnya.
“kau tau, banyak sekali orang orang ingin belajar seni kesana tapi apa yang terjadi? Mereka tak bisa karena banyak hal yang membuat mereka gagal kesana. Sedangkan kau? Tanpa usaha apapun peluang itu datang padamu. Sebaiknya kau menerima beasiswa tersebut dan bahagiakan orang tua mu dengan hasil kerja keras mu disana” yecha tersenyum lebar mendengar nasehat seongsanimnya. Yecha membungkuk beberapa kali dan berjalan dengan cepat keluar ruangan tersebut.
Yecha duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang rindang sambil menjatuhkan bulir bulir hujan tadi. Yecha menatap layar handponenya yang disana tertulis sebuah nomor yang sangat hapal olehnya. Sesekali yecha ingin memencet sbeuah tombol hijau di handponenya, tapi keraguan masih memenuhi otaknya. Dalam keadaan seperti ini apa yang harus yecha lakukan? Karena ini hari terakhirnya berjanji pada ayahnya akan menjawab permintaan ayahnya itu. Dalam keadaan seperti ini teringat olehnya kata kata seseorang yang bisa membuatnya yakin dengan tujuannya walaupun keraguan masih ada sedikit di dadanya
“baiklah. Ini adalah jalanku” akhirnya pun yecha memilih menekan tombol hijau tersebut. Tak perlu menunggu lama. Sebuah suara yang terasa beratpun berbunyi di ujung telvon disana.
“yeoboseo. Appa”
----00000-----
Yolan menatap sebuah kursi kosong di bawah pohon rindang dengan sesekali bulir air jatuh dari daun di atasnya. Kursi itu sering diduduki oleh seorang yeoja berparas cantik, lembut dan berwajah mungil dan putih. Yeoja itu sering membaca buku-entah-apa-namanya di kursi tersebut. Walaupun dulu yolan sering bertanya ‘apakah yeoja itu aneh?’ karena terus membaca buku disana tanpa memperhatikan orang orang yang mengejar sebuah bola putih hitam di lapangan di depannya duduk. Seiring berjalannya waktu, yolan bisa mengerti kenapa yeoja itu seperti itu. Dan dia juga berfirasat, sepertinya dia akan kehilangan sesuatu yang berharga bagi hidupnya. Dengan berat, yolan melangkahkan kakinya ke arah Gerbang yang tak jauh dari tempatnya saat ini sambil memperhatikan langit yang kembali mendung. Seperti nya hujan akan turun. Lagi.
----0000---
Haneul menatap sedih yecha yang sedang mengetik di pcnya. Sejak mengangkat telvon entah-dari-siapa, yechaterus mengetik tanpa mempedulikan haneul yang sudah capek capek datang ke rumahnya sambil membawa beberapa makanan untuk makan malam. Yecha sesekali menggerakan mousenya. Haneul yang merasa jengkel dan bosan duduk di sebelah yecha. Dia memperhatikan gerak gerik yecha yang membuat yecha merasa resah.
“apa kau benar benar merasa puas dengan pilihanmu?” yecha menganngguk sekali dan merenggangkan otot otot badannya yang tegang. Haneul menyerahkan air putih dan beberapa potong roti kering untuk yecha karena sejak tadi dia belum menyentuh apapun selain pcnya. Yecha merasa beruntung memiliki teman seperti haneul. Baik, pengertian, perhatian walaupun sesekali dia seperti seorang ajumma yang menjengkelkan tapi itu lah haneul, dia dapat membuat hari haari yecha merasa tenang dan bewarna.
“sekarang kau membuat apa?”haneul mengarahkan ekor matanya pada pc yecha yang menampilkan berapa rangakian huruf yang tak begitu rapat.
“itu formulir pendaftaran universitas itali. Aku harus membuatnya sekarang karena hanya tinggal 5 hari untuk mendaftar kesana” yeha menghabiskan air yang diberikan haneul tadi dengan cepat. Dia beranjak dari kursi dan berjalan kea rah tumpukan baju yang tertata rapi disebelah tempat tidur.
“apakah kau bisa menjaga dirimu disana dengan baik?” yecha menjawabnya dengan senyuman tulus. Dia tau haneul pasti akan menghawatirkannya karena selama ini haneulah yang hampir sering memasak untuknya dan mengingatkan sesuatu pada yecha. Walaupun rumah haneul bisa dibilang jauh dari apartemennya, haneul menyempatkan diri  untuk menolong yecha di apartemen kecilnya walaupun sebenarnya itu tak perlu.
“aku sudah besar, aku bisa menjagadiri ku dengan baik disana. Kojeonmal” yecha berjalan kea rah haneul dan duduk di sebelahnya
“ketika aku telah berada disana, aku akan berusaha dengan keras untuk menjadi ahli dalam bidang seni dan dikenal oleh orang banyak untuk membuat orangtua ku dan kamu menjadi bangga. Dan ketika aku pulang ke seoul, orang orang akan meneriaki namaku dan itu pasti akan tewujud”haneul tersenyum mendengar impian yecha yang tinggi itu. Dia berdoa di hati kecilnya semoga impian nya tadi di kabulkan segera.
----0000---

“gamzamita” yecha menundukan kepalanya ketika telah melayani pelanggan. Yecha segera membersihkan meja kasir sebelum pelanggan yang lain datang. Pintu terbuka lebar membawa udara dingin dari luar masuk kedalam supermarket kecil tersebut. Malam yang basah karena hujan membuat yecha sesekali menggosok tangannya karena lupa membawa jaket. Diluar yang bisa dibilang gelap membuat yecha lebih betah di dalam gedung mungil tersebut walaupun sebenarnya jam kerjanya sudah habis 7menit yang lalu. Yecha segera melayani pelanggan ketika 2 buah botol muniman isotonic dan beberapa roti terletak di atas meja kasir.
“semuanya— oh?” yecha yang ingin menyebutkan jumlah belanja pelanggan tersebut terpotong ketika melihat seorang namja bertopi hitam menatapnya tekejut dengan mata bundarnya
“k..kau bekerja disini?” yecha hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari wajah tampan didepannya
“sunbe, kau dari mana?” yecha menatap yolan dari atas sampai bawah. Dia hanya memakai sepatu olahraga bewarna biru tua,celana training hitam, jaket tebal yang sepertinya dilampisi 2 buah jaket dan tas besar yang tersadang dibahu yolan.
“aku baru pulang dari gym” yecha yang sadar dari kepesonaanya oleh wajah yolan segera memberikan kantong yang berisi belanjaan kepada yolan
“gamzamita” yecha segera menerima uang yang diberikan yolan dan memberikan kemabliannya dengan tangan yang gemetar.
“ku tunggu kau didepan” yolan segera keluar dari supermarket itu dan menghilang di balik pintu transparan.
Setelah menyelesainkan pekerjaan yang masih tersisa, yecha segera keluar dan menemukan yolan yang tengah duduk dengan santai di sebuah kedai yang menjual beberapa makan korea di sebelah tempat kerjanya. Yolan yang menyadari kehadiran yecha segeran menggeser kursi  disampingnya dan menyilahkan yecha untuk duduk. Setelah memesan makanan yang bisa membuat mereka hangat.
Suasana yang dingin karena hujan dan canggung membuat yolan merasa bodoh di depan yecha. Setelah meminum beberapa gelas air putih, dia pun mulai angkat bicara
“apakah kau jadi pergi ke Italy?” mendengar jawaban itu yecha terdiam sejenak dan mengangguk. Yolan hanya mengangguk pelan dan menatap gerimis hujan yang mengguyur myendong malam itu. Yecha menatap makanan yang telah dihidangkan di depan mereka.
Setelah mengahabiskan makan mereka, yolan kembali bicara walaupun sebenarnya tak ada yang perlu dibicarakan lagi
“apakah kau yakin dengan keputusanmu?” yecha hanya mengangguk pelan. Dia sudah sepakat dengan hati kecilya kalau dia akan ke Italy.
“aku akan pergi 2minggu lagi. Disana aku akan menunggu hasil tes masuk university. Kuharap sunbe “mendoakan ku” yolan mengangguk dengan senyuman manisnya yang membuat yecha seperti patung.
“cha. Mari pulang. Seperti nya hujannya telah berhenti” yolan mengambil tas yang diletakkannya di kursi sebelahnya dan mengajak yecha untuk pergi mengikutinya.yecha dan yolan berjalan menuju halte yang letaknya tak begitu jauh dari tempat tadi. Sepanjang perjalanan, mereka hanya mengahabiskan waktu dengan melamun atau melihat kedaan sekeliling mereka. Yecha menatap yolan yang sepertinya tak tau kalau yecha sekarang hampir mati membeku.
“hmm, ada apa?” yolan yang merasa diperhatikan segera menoleh kea rah yecha dan mendapatkan yecha yang tengah menggosokan kedua tangannya. Dengan cepat yolan memakaikan jaket miliknya ke badan yecha dan memeluknya supaya yecha lebih hangat
Deg!
Hati kecil yecha berdoa semoga waktu benar benar berhenti sekarang. Dia tak ingin melepaskan pelukan ini. Pelukan yang tak akan pernah dia rasakan lagi. Yecha menitikan matanya mengingat bahwa dia takan melihat namja yang sekarang semakin erat memeluknya.
“jangan pergi” walaupun suara itu benar benar pelan dan hampir tak bisa di dengar, tapi yecha bisa mendengarnya cukup jelas. Yolan segera melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya dari yecha. Yecha segera membungkukan badannya dan berterima kasih pada yolan
“gamzamita sunbe-nim karena telah mentraktir dan meminjamkan jaket ini padaku” yolan menatap yecha dengan senyuman dan mengangguk pelan
“ambil saja jaket ini. Aku punya banyak jaket seperti ini di rumah. Anggap saja ini kenang kenangan dari sunbe mu ini” yolan menepuk nepuk pelan kepala yecha dan berjalan meninggalkan yecha di halte bus
“hati hati”yolan melambaikan tangannya pada yecha dan segera belari meninggalkan yecha yang masih menatapnya sendu. Dia pasti akan menatap wajah itu lagi, pasti.
----0000---
2minggu kemudian
Bandara Incheon siang itu cukup ramai mengingat musim libur segera datag. Seorang yeoja yang hanya menggunakan kaos oblong biru laut,celana jins putih selutut dan sepatu kets senada dengan celana Nampak tengah memeluk orang orang yang datang mengantarnya ke bandara tersebut. Yecha menepuk nepuk punggung ammanya lembut untuk supaya ammanya tenang dari tangisannya. Setelah tangisan ammanya sedikit mereda, yecha memeluk haneul yang wajahnya Nampak murung.
“sudahlah, aku tak selamanya disana” yecha encubit pelan pipi haneul dan mendapat balasan jitakkan dan pelukan erat dari haneul. Haneul tertawa mendengar celotehan panjang haneul dan menatap canggung yolan yang di depannya
“gamzamita sunbe-nim karena telah mengantarkanku ke bandara” yolan mengangguk pelan dan menjabat tangannya yecha. Yecha tersenyum dan beralih memeluk appanya.
“disana kau jangan nakal. Kau harus pada kim ajussi dan jangan berbuat macam macam” yecha mengangguk mengerti.
“penerbangan ke Italy dengan nomor penerbangan…” yecha segera menarik kopernya setelah mendengar pemberitahuan yang membuatnya sadar dari celotehan panjang ammanya. Yecha melambaikan tangannya pada orang orang yang akan ditinggalkannya dan memasuki sebuah pintu kaca besar di depannya. Tiba tiba tangan yecha ditarik membuat yecha hampir terjatuh. Dengan segera seseorang memeluk yecha supaya tidak jatuh dan orang itu adalah yolan.
“sunbe! Bukankah kau tidak boleh masuk kesini?” yolan tersenyum dan menunjuk seorang namja bersetelan jas hitam yang berdiri tak jauh dari pintu yang dimasukinya tadi
“ajussi itu teman appa ku. Dia mengizinkan selama 5menit utk memberikan ini” yolan memberikan sebuah mp3 bewarna hijau daun dengan sebuah tulisan di sudut kiri atasnya. Yecha hampir mengangis menerima hadiah kecill dari yolan.
“ini mp3 yang ingin kuberikan pada seseorang yang kusukai dulu, tapi dia telah memiliki seorang namja dan selama ini aku hanya menyimpannya dilaci mejaku” yolan menggaruk lehernya yang tak gatal ketika menatap tatapan yecha yang polos itu. Tatapan yang selalu membuatnya bisa menggila secara tiba tiba.
“gamzamita” yecha segera membungkuk berterima kasih dan malah direspone aneh oleh yolan. Yolan menepuk nepuk pahanya dan menggigit bibir awahnya
“aigoo. Kenapa kau berterima kasih?” ucap yolan gemas melihat ekspresi yecha. Yolan hanya bisa menatap yecha tak sabaran dan memegang kedua tangan dingin yecha
“semoga kau baik baik disana” yecha mengangguk semangangat dan menganggkat tangannya untuk menyemangati dirinya dan juga yolan. Yolan tertaw kecil dan menepuk nepuk kepala yecha lembut.
“cha. Sekarang pergilah dan raih mimpimu ne?” yolan membalikan badan yecha dan mendorongnya untuk berjalan memasuki pesawat.yecha melambaikan tangannya pada yolan dan berjalan melewati belalai tersebut. Yolan segera keluar dari ruangan tersebut dan menatap yecha dari balik kaca yang membatasinya dengan yecha. Bisa dilihatnya yecha menatap mp3 yang diberikannya tadi dengan menunduk. Sepertinya dia menangis. Tak berapa kemudian, pesawat telah meluncur ketika badan yecha telah ditelan oleh pesawat itu tanpa bekas.
Yolan bisa merasakan detak jantungnya yang tak karuan. Yolan tersenyum miris dan membalikan badannya dari kaca besar itu. Dengan berat yolan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan bandara tersebut walaupun sebenarnya dia tak ingin.
Yecha mengusap pelan mp3 yang diberikan yolan tadi. Mp3 berbentuk persegi bewarna hijau daun dan sebuah tulisan yang ditulis dengan tinta timbul pink di ujungnya. Sebuah senyuman dan setitik air mata menghiasi wajah yecha. Bukan kesedihan yang dilanda oleh yecha saat ini, tapi sebuah rasa bahagia yang meledak ledak yang mungkin bisa menghancurkan pesawat itu. Yecha menutup mulutnya supaya tak satupun suara yang dikeluarkannya. Ditatapnya lagi tulisan itu dan segera menyadari suatu hal.tulisan pink itu terus dielusnya, tulisan yang bisa membuatnya segera kembali lagi ke seoul dan mengatakan isi hatinya ‘wo ai ni’.
--end--

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images