Fanfiction
Let It Rains
01.22.00
Main Cast : - Kim Yecha
- someone yecha LOved
Criteria : Romance, Sad
ni cerpen pertama yang aku buat untuk teman dekat ku*lirik kesebelah. jika ada persamaan nama, tempat atau yang lainnya itu hanya kebetulan yang tak disengaja. maaf kalau typo bertebaran dan jelek ^^. hapy reading^^
Let It Rain
Matahari nampak menyembunyikan sinarnnya
di balik awan hitam yang memenuhi langit seoul. Udara yang tadinya hangat dan
bersahabat tiba tiba berubah menjadi dingin. Mahasiswa konkuk university Nampak
tak memperdulikan cuaca yang tiba tiba berubah sekena hati. Seorang yeoja
Nampak duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon maple yang daunnya telah
menguning. Yeoja berambut kemerahan itu sesekali menganggukan wajah mungilnya
dan melingkari kata kata yang menurutnya susah dimengerti pada buku yang ada di
pangkuannya. Awan hitam yang tadi masih kelabu kini telah menjatuhkan bulir
bulir air dari langit. Sebahagian mahasiswa di universitas itu berlari
menyelamatkan diri dan ada yang hanya berjalan santai tak mempedulikan dirinya
basah oleh air. Yeoja yang duduk di bawah pohon maple itu segera menutup buku
yang ada di pangkuannya tadi dan berlari kecil ke koridor sekolah.
Yeoja bernama kim yecha itu
tersenyum ketika mendapatkan sepotong daun kering di atas kepalanya ketika dia
memperbaiki ikat rambutnya. Daun itu di selipkannya ke dalam buku yang di
pegangnya dan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari tempatnya berdiri.
Langit semakin brutal
menjatuhkan air air bulat dari langit membuat yecha harus rela menghabiskan
waktunya di universitas itu atau lebih tepatnya duduk tersenyum sambil mentap
seorang namja dari balik kaca yang membatasi ruang antara dirinya dan namja
rambut pirang tersebut. Yecha sesekali tersenyum malu dan menutup mulutnya
ketika namja itu membuat ekspresi wajah yang lucu pada temannya. Namja itu
tertawa terbahak bahak ketika temannya melakukan gerakan yang membuatnya lucu,
sedangkan yecha yang entah berapa lama berdiri di luar dengan setianya menatap
namja yang sekarang sedang membereskan barang barangnya dan memasukannya ke
dalam tas. Yecha yang sadar bahwa namja
itu akan meninggalkan kelas tersebut segera membalikan badannya dan bersembunyi
di antara dinding yang bisa menyembunyikan badan mungilnya. Namja yang sempat
mencuri waktu yecha itu melintas di depan yecha tanpa mempedulikan yecha yang
sekarat ketika menatap wajah dan tatapan teduh namja itu.
“kau akan pergi ke tempat
berisik itu?” Tanya teman namja yang disukai yecha tersebut. Namja itu
mengangguk dan melakukan gerakan aneh yang membuat temannya tertawa
“tempat itu jika tak di kunjungi
sekali bisa membuatku gila. Dia benar benar membuatku tertarik dan tak bisa
keluar dari tempat berisik itu dan apalagi minumannya yang membuat siapa saja
yang bisa lupa waktu” namja itu mengakhiri ucapannya dengan anggukan dan
berpisah dengan temannya di ujung koridor. Yecha yang mendengar percakapan
mereka hanya bisa menunduk dan berjalan dengan gontai meninggalkan koridor yang
sepi. Yecha sudah tau,bahwa namja itu sangat suka melakukan kegiatan yang tak
disukai yecha.
----00000----
“yecha! Bisakah kau lebih cepat
sedikit?!” teriak seorang yeoja berambut pendek sebahu bergelombang dengan
celemek merahnya dari arah dapur. Yecha yang baru keluar dari kamar mandi berlari tergesa gesa kearah dapur karena
mendengar suara cempreng yang terus memanggil namanya.
“ugh, kau selalu menyusahkanku” yecha mengambil sup jamur
dari tangan yeoja itu dan meletakkannya di atas meja bundar di dapur. Yeoja
ber-celemek merah itu tak merespon dan melanjutkan memasaknya. Yecha dengan
sigap menata piring dan gelas di atas meja dan mengakhirinya dengan menuangkan
jus apel ke dalam gelas.
“selesai. Hanya menunggu haneul ku yang cantik ini siap”
yecha memeluk yeoja bercelemek merah itu dan mencubit pipinya yang cuby. Yeoja
bernama haneul itu hanya memukul kepala yecha dengan sendok dan tersenyum.haneul
melepaskan celemeknya dan bergegas duduk di atas kursi di sebelah yecha yang
siap dengan sendok dan sumpitnya.
“jja. Mari habiskan makanan ini”yecha dengan sigap
menghabiskan makanan yang telah dibuat haneul tadi dan memuji setiap makanan
yang di makannya. Yecha makan dengan lahap dan tak memilih makanan apapun.
sangat berbeda dengan hanel yang hanya memakan semangkuk sup jamur dan roti
kering. Yecha pernah bertanya pada haneul kenapa makannya selalu sedikit dan
pemilih dalam hal makanan dan selalu
mendapatkan jawaban memuakkan dari haneul ‘wanita itu harus menjaga tubuhnya
tetap cantik. Namja tidak suka dengan yeoja gendut’. Menurut yecha itu pernyataan
yang paling aneh baginya.
Setelah menghabiskan makanan
yang tersaji tadi, yecha membersihkan meja makan dan mencuci piring piring yang
kotor. Sedangkan haneul Nampak bersantai di depan tv sambil memutar acara
favorite nya.
Langit malam seoul yang gelap
membuat yecha dan haneul lebih betah berdiam diri di depan tv di temani dengan
susu coklat panas dan berbagai macam snack yang di beli yecha sepulang kuliah.
Haneul menatap yecha yang tertawa ketika melihat acara tv kesukaan mereka.
Yecha yang merasa terganggu melihat tatapan haneul mengecilkan volume tv dan
menatap jengkel haneul yang sekarang malah menatap tv.
“waeo? Apa kau ingin menanyakan sesuatu?”haneul tak menjawab
pertanyaan yecha. Dia mengambil keripik kentang dan mengunyahnya cepat. Yecha
masih menatap haneul yang masih berpura pura tak tergangu dengan tatapan tajam
yecha. Yecha ber-dehem dan membuat haneul segera menatapnya.
“ugh, baiklah. Kau masih menunggunya?” yecha yang tau arah
pembicaraan haneul hanya diam dan menunduk menyembunyikan wajah sedihnya.
“sudah ku duga. Bukankah kau tau dia sudah memiliki
yeojachingu? Jadi apa yang kau tunggu darinya?” yecha memainkan jarinya di atas
buku yang baru setengah di bacanya sambil mendengarkan ocehan haneul. Haneul
mendesah kesal melihat perilaku yecha yang membuatnya muak.
“yecha seharusnya kau –“
“arrasoe. Aku akan melupakannya” yecha dengan cepat memotong
ucapan haneul dan berjalan ke arah kamarnya. Haneul tediam melihat sikap yecha
yang tiba tiba berubah.
“tadinya aku ingin mengatakan bahwa dia— ah lupakan” haneul
mematikan tv dan berjalan memasuki kamar yecha yang cukup berantakan.
Dilihatnya yecha berada di bawah selimut
dengan seluruh badannya di bungkus dengan selimut biru tebal miiliknya. Haneul
hanya tersenyum dan merebahkan badannya di samping haneul.
------00000------
“gamzamita” ucap seorang yeoja
di balik meja kasir ketika pelanggan pergi meninggalkan toko. Yecha menghapus
keringat yang ada didahinya. Sejak tadi pagi dia terus bekerja sampai malam
tanpa henti. Dia sesekali tersenyum
ketika melihat jam yang ada di dinding toko. Seorang namja separuh baya Nampak
sejak tadi memperhatikan yecha sambil menyusun kardus di sudut belakang toko.
“ambil ini” namja itu melemparkan minuman dingin ke pada
yecha ketika yecha sedang asik menghitung uang di dalam mesin kasir. Namja itu
terkekeh kecil ketika melihat wajah yecha yang terkejut ketika sebuah botol
minuman terlempar ke arahnya.
“o—oh, gamzamita boss” yecha tersenyum dan mulai meminum
minuman isotonic tersebut. Namja separuh baya yang di panggil bos oleh yecha
menggeser kursi di sampingnya ke depan meja kasir dan duduk di atasnya.yecha
kembali melanjutkan aktivitas nya tanpa di sadarinya namja yang dipanggilnya
bos itu memperhatikan gerak geriknya.
“kau bekerja keras sekarang hmm?” boss itu meneguk minuman
isotonic nya dan mengalihkan pemandangannya ke jalanan yang tak begitu ramai.
Yecha sekilas tersenyum kea rah bosnya dan kembali menghitung uang.
“ya begitulah” jawab yecha pendek dan menyapa pelanggan yang
datang masuk ke dalam toko
“apa kau memerlukan uang?” yecha sontak terkejut mendengar
pernyataan bosnya. Ia mengangguk ragu dan memasukan semua uang ke dalam mesin
kasir. Bosnya meremas pelan bahu yecha dan tersenyum kecil
“eomma mu pasti memerlukan uang bukan?” yecha hanya menunduk
menyembunyika wajah sedih dan malunya. Bos nya tersenyum kecil dan meletakkan
tangan besarnya ke atas kepala yecha
“arraseo. Kau bisa mengambil gaji mu lebih cepat sedikit dan
aku akan menyumbang separuh uangku” yecha menatap bosnya berbinar dan meraih
tangan bosnya.
“gamzamita bos. Jeongmal gamzamita” yecha meremas tangan
bosnya sebelum bosnya pergi meninggalkannya karena pelanggan akan membayar
barang yang dibelinya.
-----000000-----
Langit mendung kembali
menyelimuti kota seoul. Sebagian orang lebih banyak mengahbiskan waktunya di
dalam ruangan dari pada keluar dengan cuaca seperti ini. Yecha yang belum ingin
pulang mengahbiskan waktunya di dalam ruang seni sambil melukis pemandangan di
luar. Yecha Nampak begitu kosentrasi dan tak mempedulikan keadaan di
sekitarnya.
Sebuah bola putih dengan corak
hitam segi lima berguling masuk ke dalam ruangan seni. Seorang namja berkulit
putih,jangkung dan memiliki rambut pirang Nampak setengah berlari ke dalam
ruangan tersebut dan segera mengambil bola. Ketiak namja itu berdiri,dia
terperangah ketika melihat ekspresi wajah yecha yang sedang melukis ketika
memasuki ruangan kecil tersebut. Entah apa yang salah dengan namja itu, dia
betah berdiri di tempat yang sama dan menatap yecha tanpa mengalihkan
pandangannya. Mata namja itu melebar ketika sebuah senyuman terkembang di wajah
mungil yecha
Buk!
yecha menoleh kea rah suara tersebut dan kaget siapa yang di lihatnya. Seorang namja jangkung berdiri di awang pintu dengan wajah shock nya. Yecha mendehem dan memalingkan wajahnya malu bercampur senang. Namja itu tersadar dari lamunannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal
yecha menoleh kea rah suara tersebut dan kaget siapa yang di lihatnya. Seorang namja jangkung berdiri di awang pintu dengan wajah shock nya. Yecha mendehem dan memalingkan wajahnya malu bercampur senang. Namja itu tersadar dari lamunannya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal
“eumm.. itu—tadi—mianhe, t—tadi bola ini mengelinding ke
sini” ucap namja itu gugup. Yecha hanya menunduk dan tak merespone ucapan namja
tadi. Namja itu semakin salah tingkah melihat ekspresi yecha yang datar.
“geure, silahkan lanjutkan pekerjaanmu” namja itu tersenyum
dan berjalan meninggalkan ruangan itu sebelum bola yang di ambilnya jatuh lagi.
Yecha masih menunduk ketika namja itu sudah menghilang dari pintu. Entah kenapa
jantung yecha benar benar diluar kendali. Yecha segera membereskan lukisannya
dan berjalan keluar sebelum hujan kembali turun.
----00000---
Dentuman music mengalun keras
di sebuah bar. Lampu berbentuk bulat dengan berbagai macam warna menyebarkan
warnanya di seluruh ruangan yang penuh dengan manusia manusia yang menggila
karena dentuman music. Seorang namja Nampak mengelus lembut rambut seorang
yeoja. Perlahan yeoja itu mendeatkan dirinya pada namja itu dan tangan
mungilnya mulai membelai lembut wajah mungil namja itu. Detik berikutnya namja
itu menyentuh dagu yeoja itu dan menarik wajah itu untuk mendekat.
Yecha terbangun dari tidur nya. Dadanya naik
turun mengingat mimpi buruk yang baru dialaminya. Minpi yang terus
menghantuinya sejak memasuki ruangan
terlarang itu. Ruangan dengan manusia yang menggila oleh music yang membuat
telinga yecha bisa tuli. Yecha dengan cepat turun dari tempat tidurnya ketika
mengingat dia harus bekerja dan pergi ke rumah nya di sebuah kota kecil di
seoul.
Tak butuh waktu lama, yecha
sudah bersiap dengan jaket tipis kuningnya, sepatu kets biru tua dan sebuah
topi menghiasi kepala nya dan tak lupa juga yecha membawa sebuah tas selempang
dengan isinya yang akan diberikan pada eommanya nanti.
Setelah menaiki bus dengan susah
payah karena jam pulang sekolah membuat bus tersebut penuh dengan mahasiswa.tak
butuh waktu berapa lama, bus tersebut berhenti di halte bus myeondong dan berlari ke sebuah bangunan yang tak terlalu
besar yang terletak di tengah tengah myeondong. Yecha tersenyum lebar ketika
telah sampai pada tempat kerjanya. Dia hanya terlambat 2 menit dan itu tidak
terlalu buruk baginya.
“yecha, tumben kau cepat datang walau terlambat beberapa
menit” ucap seorang sunbe yang berdiri di belakang meja kasir ketika yecha memasuki tempat kerjanya dan
berjalan ke arah pintu yang ada di belakang kasir.
“hehe, bukan kah itu lebih bagus sunbe?” yecha tersenyum dan
berjalan ketempat lokernya.
--0000----000—
Sebuah bus bewarna hijau
berhenti di halte bus dengan 3 orang di
sana. Yecha dengan semangat memasuki bus tersebut dan memilih duduk paling
belakang. Di sana ada seorang namja dengan kepalanya ditekuk.
“sepertinya dia tertidur” yecha tersenyum melihat ekspresi
wajah namja itu dari balik syal tebal yang dipakainya. Yecha mengeluarkan
sebuah buku dengan sampul biru laut penuh dengan motif motif lucu. Sesekali
yecha menggaris bawahi kata kata yang menurutnya menarik dan tersenyum ketika
membaca kata kata yang menurutnya unik. Tanpa disadarinya namja yang tidur di
sebelahnya tadi tengah menatapnya dengan senyum tipis di wajahnya. Yecha tanpa
sengaja menoleh ke arah kanannya dan melihat namja tetridur tadi tengah
menatapnya
“oh, s-sunbe nim” ucap yecha terkejut ketika namja itu
mengangkat tangannya dan mengangguk. Yecha segera menutup bukunya dan membuang
wajahnya ke arah jendela di sebelahnya. Namja yang di panggilnya sunbenim tadi
terkekeh kecil dan mendekatkan diri ke arah
yecha.
“kau bukankah yeoja yang ada di ruang seni bukan?” Tanya
namja itu sambil berusaha melihat wajah yecha yang di sembunyikan di sudut kaca
bus. Yecha hanya mengangguk dan kembali berusaha menatap namja yang kini sudah
tak melihat wajahnya lagi. Yecha menatap namja yang kini menatap lurus kedepan
dan tak mempedulikan yecha yang sedang mengerjap ngerjapkan matanya tak percaya
‘kenapa dia disini? Apa dia menguntitku?’pikir yecha yang
masih menatap namja yang sekarang celingukan menatap pemandangan sekitarnya
“tadi aku baru balik dari rumah kim woo, dan ternayata aku
baru tau kalau aku tersesat”namja itu ampak panic dan mengecek handphone nya
“argg, kenapa harus low batt?” namja itu memukul
handphonenya sebelum yecha tertawa melihat tingkah lucu namja tersebut
“waeo?” ucap namja itu kesal sambil menunjukan ekspresi wajahnya
yang lucu. Bukannya takut,yecha malah tambah tertawa melihat ekspresi wajahnya.
“hahaha, sunbe nim. Kau seperti anak kecil. Kenapa kau tidak
meminjam handphone ku saja?” yecha memasukan tangannya kedalam tas selempang
coklatnya. Wajah yecha yang tadinya ceria berubah menjadi khawatir ketika
merasa bahwa handphonenya hilang
“waeo?” namja itu menatap aneh yecha yang sekarang tengah
mengeluarkan semua benda dari tas nya. Yecha menatap sedih sunbenya.
“handphone ku hilang. Eotoke?” yecha memasukan dengan asal barang
barang yang dikeluarkan nya tadi ke dalam tasnya. Yecha memperbaiki duduknya
dan berfikir di mana jatuhnya handponenya
“ku rasa tertinggal di supermarket” yecha mengangguk dan
menoleh ke arah namja yang menatap nya tekejut.
“ternyata kau lucu juga yah” namja itu tersenyum dan
menyandarkan punggungnya ke bangku bus. Mereka pun terlarut ke dalam dunia
masing masing nampa disadari mereka telah sampai ke tempat tujuan. Yecha
menatap namja yang juga turun dari bus dan mengikutinya jalan
“kenapa sunbe mengitu ku?” hana menatap aneh namja yang
sekarang menatap kea rah sekelilingnya. Yecha kembali memanggil namja itu tapi
tak ada respone darinya. Sepertinya namja itu terhipnotis dengan pemandangan
indah di kota tersebut. Yecha yang jengkel melihat sunbenim nya berjalan
meningalkan namja yang masih terpesona oleh pemandangan tersebut.
“sunbe!!” teriak yecha merasa namja itu masih tidak
mengikutinya.
“yolan sunbe-nim!!” dengan lantang yecha menyebutkan namja
itu. Namja bernama woo jin tersebut segera menoleh kea rah yecha dan berlari
mendekat
“ahh, mianhe. Aku terlalu terpesona dengan pemandangan ini.
Apakah ini desa?apa itu kawah?” Tanya yolan tanpa mengalihkan pemandangannya
dari sebuah danau dengan semak semak tinggi memagarinya. Yecha mengikuti arah tatapan woo jin dan
mengerti apa yang di maksudnya yecha pun menjawab dengan sesekali kekeh kecil
khas nya
“ani. Ini kota kecil, tak begitu terkenal karena letaknya
begitu terpelosok dan itu danau bukan kawah”yecha mulai melangkah pelan dan
diikuti oleh yolan di sampingnya. Langit yang tadi gelap bertambah gelap karena
uap air telah bertumpuk disana. Yecha mempercepat langkahnya takut hujan segera
turun. Tapi keberuntungan tak berpihak padanya. Hujan tiba tiba turun dengan
lebat, dengan reflek yecha mengandeng yolan berlari menuju sebuah rumah
tradisional korea yang letaknya tak jauh dari danau tadi
----0000000------
Yecha tertawa kecil melihat
pakaian yang di pakai yolan. Baju kaus kekecilan dan celana training hitam yang
sudah luyu. Woo jin dengan canggung duduk di sebelah yecha yang tengah menyeduh
teh panas untuk nya. Seorang yeoja separuh baya Nampak tersenyum ketika melihat
yolan yang terus menarik narik ujung lengan kausnya karena begitu kecil bagi
yolan. Yeoja itu membawa beberapa makanan untuk pelengkap minum teh dan
menyerahkan sebuah selimut kecil ke arah yolan. Dengan anggukan cangguk yolan
menerima sselimut tersebut dan menyembunyikan badan kurusnya di balik selimut tersebut
“aigooo, namjachingumu ini begitu gagah oh?” yeoja itu
mengelus lembut lengan yolan. Yolan menatap terkejut yecha dan bergantian
menatap yeoja yang masih mengelus lengannya.
“anio amma. Dia sunbe-nim ku.” Bantah yecha sambil
menyerahkan secangkir the hangat pada yolan. Seorang namja yang umur nya tak
jauh beda dari yeoja yang dipangiil amma tadi mendecak lidah nya ketika
mendengar ocehan yecha tadi
“aiss, kau ini. Kalau kalian pacaran itu juga tak masalah
bagikul. Asalkan dia bisa menjaga mu dengan baik” namja itu mengatakan kata
kata itu dengan mudah tanpa melepaskan pandangannya dari pedang panjang yang
tengah di besarkannya
“appa. Apa yang appa katakana tadi?” yecha melirik yolan
sekilas dan melihat yolan membuang wajahnya ke halaman luar yang telah asah
oleh air hujan yang turun. Sore itu ruangan kecil yang hangat penuh dengan
kejutan bagi yolan. Yolan yang pertama kali melihat coletehan yecha yang jarang
di tunjukannya pada orang orang yang dikenalnya, melihat appa yecha yang
wajahnya garang ternyata sangatlah lucu dan ternyata dia adalah manta tentara
yang pensiun karena kakinya patah saat berperang dengan korut dan amma yecha
yang begitu lembut dan hangat yang ternyata dulunya adalah seorang seniman
terkenal di kota kecil tersebut. Sedangkan yecha adalah anak tunggal dan
dulunya memiliki seorang kakak tapi meninggal ketika berumur 2 tahun karena
sakit yang melandanya. Yolan begitu tertarik dan tenang berada di tengah tengah
keluarga seperti ini.
“sunbe, kau ingin makan?biar ku ambilkan” yolan memegang
tangan yecha ketika hendak mengambilkan nasi dan pelengakpnya untuk yolan.
Yecha menatap yolan terkejut dan yolanpun segera melepaskan tanganya dari
pergelangan yecha ketika deheman dan tawa appa yecha yang menyadarkannya
“gomawo.aku sudah kennyang dengan kue yang dibuat amma mu
tadi” yolan tersenyum untuk meyakinkan yecha. Yecha hanya mengangguk dan
kembali duduk di sebelah yolan.mereka kembali terdiam. Hujan diluar sana masih
belum berhenti. Tanah semakin becek karena hujan dan jalanan Nampak licin.
Yolan dengan kagum menatap pekerjaan apa yang dilakukan oleh amma yecha. Sebuah
guchi yang lumayan tinggi dicatnya dengan teliti dan halus. Yolan yang pertama
kali melihatnya menatap yecha untuk menanyakan tentang kegiatan itu
“itu hobi amma ku dank arena ammaku lah aku bisa sekolah di
universitas konkuk sekarang” yecha menatap ammanya dengan senyuman yang bisa
membuat yolan yang sekarang seperti patung melihat yecha. Senyuman yang sangat
jarang dilihat oleh orang orang terdekatnya dan termasuk haneul. Yecha menoleh
kea rah yolan dan segera menyadarkan yolan dari lamunannya.
Mereka kembali diam dan sayup
sayup terdengar suara merdu yang berasal
dari ruang tamu. Ternyata itu suara telvon. Setelah appa yecha
mengangkatnya, appanya kembali dengan membawa sebuah amplop kuning tipis dengan
tulisan b.inggris di depannya. Appa menyerahkan amplop itu pada yecha yang
menatap heran amplop tersebut.
“kemaren kenalanku memerlukan seseorang untuk studionya di
itali. Jadi dia memerlukan seorang seniman muda untuk merancang ide ide bagus
untuk film dan iklannya” sejenak appa yecha menghentikan ucapannya untuk member
jeda supaya yecha dapat menangkap pembicaraannya tadi. Yecha hanya diam dan
masih pada posisi duduknya tadi. Appa pun kembali melanjutkan perkataannya tadi
“jadi aku merekomendasikanmu sebagai karyawan untuknya. Dan
kuharap kau bisa menerimanya karena kau akan bersekolah di sekolah seni ternama
disana secara gratis dan mendapatkan pengalaman menjadi perancang sebelum kau
benar benar resmi bekerja setelah kulaih besok” appa yecha mengakhiri ucapannya
dengan senyuman yang menenangnkan dan meninggalkan yecha yang mematung di tempatnya.bekerja di Canada?
Sendiri?. Yecha dengan ragu menatap yolan yang ternyata juga mematung di
tempatnya
----00000-----
Haneul menatap kosong kearah map
kuning yang tergeletak di atas meja makan. Sesekali haneul membuang nafasnya
berat dan melirik yecha yang sekarang tengah menatap kosong map kuning yang di
depannya. Ntah pilihan apa yang harus yecha ambil. Jika dia menolaknya, appa dan
ammanya akan sedih Karena mereka mengharapkan yecha bisa berkarir di luar
negeri dan kembali kekorea sebagai ahli seniman ternama dan jika dia
menerimanya dia tak ingin meninggalkan teman temannya dan keluarga tercintanya,
apalagi seseorang yang hampir membuat hari harinya penuh dengan kejutan.
“kau ingin menerimanya?” haneul menatap sedih yecha yang
kini menatap sendu haneul . siapa seorang
akan relaa ditinggalkan jauh oleh sahabatnya? Jika ada, itu bukan
termasuk haneul.yecha menggeleng lemah dan membenamkan wajahnya di dalam boneka
beruang yang dipeluknya saat ini.
“molla” yecha beranjak dari duduknya dan berjalan kea rah
pintu dan meraih jaket yang tergeletak di atas kursi. Haneul menegakkan badan
nya ketika melihat yecha measang sepatunya dan mengambil topi yang tergantung
di balik pintu.
“ya! Eodiseo?” heneul
segera berdiri melihat yecha yang mulai memutar ganggang pintu. Yecha sekilas
menatap haneul dan berjalan keluar dari rumahnya
“aku keluar sebentar membeli beberapa makanan” ucap yecha
setengah berteriak dari luar rumahnya. Dia berjalan dengan gontai ketika menuju
lift. Sepanjang perjalanannya, yecha hanya seperti orang bodoh yang tau harus
pergi kemana sampai dia menemukan sebuah bangunan yang cukup besar dengan orang
yang selalu keluar masuk ke dalam bangunan tersebut. Bangunan yang
mengingatkannya dengan masa lalunya yang sangat sakit. Tanpa dikomando oleh
siapapun, kaki yecha melangkah dengan ringannya ke dalam bangunan itu tanpa
khawatir sedikitpun. Lorong panjang dengan karpet merah yang menghiasinya dan
beberapa orang dengan pasangan tengah melalukan perbuatan yang tak patut dilihat. Yecha menatap ruangan yang di penuhi
dengan orang orang ang gila meliuk liuk an badannya di lantai dansa karena
mendengar suara music yang berdentum keras. Yecha pun memilih duduk di depan
meja bartender yang cukup sepi dan memesan sebuah minuman non-alkohol.
Yecha menebarkan pandangan ke
sekelilingnya. Orang orang masih asik dengan goyangan ‘cacing’nya di lantai
dansa dan beberapa orang bersama pasagannya melupakan dunia sebenarnya. Yecha
dikejutkan dengan kehadiran seorang namja asing yang melingkarkan tangan
kekarnya kebahu kecil yecha. Yecha menatap nya aneh dan melepaskan tangan besar
itu dari bahunya
“hei, aku minwook. Apa kau sendirian?”namja itu menarik
sebuah kursi agar bisa dekat dengan yecha. Yecha tak meresponenya dan merasakan
tangannya namja itu mulai mengelus lembut rambutnya yang panjang yang ditutupi
oleh topi hitam miliknya. Yecha meremas gelas yang ditangannya. Dia benar benar
takut. Apa yang harus dilakukan seorang yeoja di tengah bar yang diganggu oleh namja
aneh dan dia tak memiliki kemampuan apapun selain seni dan memasak?
“cogie. Bisakah kau melepaskan tanganmu dari rambutnya?”
yecha menoleh ke sumber suara tersebut. Seorang namja tinggi berambut pirang
dengan kaca mata hitam bertenngger di mata sayunya. Namja aneh tadi
menyingkirkan tangannya dan berjalan meninggalkan namja dan yeoja tersebut.
Yecha merasa lega karena terselamatkan oleh namja baik tersebut.
“gamzamita sunbe-nim”yecha membungkuk dan kembali meneguk
minuman yang sepenuhnya belum habis. Yolan mengangguk dan mengambil posisi
duduk di sebelah yecha yang sekarang tengah membaca pesan yang dikirim ke
handponenya.
“nugu?” Tanya yolan sambil mengarahkan dagunya ke handpone
yang dipegang yecha. Yecha menatap handponenya dan kembali menatap yolan
“haneul menyuruhku pulang. Tapi aku belum niat” yecha
kembali meneguk minumannya dan diam beribu bahasa. Mereka sibuk dengan pikiran
mereka masing masing tanpa mempedulikan satu sama lain.
“hmm, kenapa sunbe-nim bisa ada disini?” Tanya yecha ragu
dan menundukan wajahnya ketika tiba tiba yolan menatapnya tak percaya.
“aku kerja paruh waktu disini” yecha merasa ada bidadarii
yang menyiram hatinya saat ini. Dia tersenyum tipis tanpa yolan tau.
“aku tiggal sendiri di rumahku yang besar. Aku tinggal
bersama amma dan pelayan pelayanku.sedangkan appa sibuk dengan pekerjaannya
walaupun dia bisa menyempatkan diri untuk bersenang senang denganku. Dirumah
besar itu benar benar membosankan apalagi hanya aku,amma dan pelayan kaku yang
menghuni rumah itu hampir tiap hari.amma juga tidak keberatan untuk
mengizinkanku bekerja, menurutnya itu pilihan yang bagus”yolan mendecak
lidahnya dan menerima minuman yang tadi sempat dipesannya
“jadi sunbe-nim bekerja untuk menghilang bosan dirumah??”
yecha menatap polos yolan. Yolan sampai tak bernyawa melihat wajah polos yecha
yang bisa dikatakan hampir dekat itu. Yolan mengangguk dan membuang mukanya
karena perbuatan yecha.
“ohh. Jadi yeoja yang kau goda waktu itu?” yecha membulatkan
matanya karena secara tiba tiba dia mengucapkan kata kata yang seharusnya tak
harus diucapkannya
“haneul pernah kesini dan melihat sunbe bersama seorang
yeoja, jadi dia menceritakan nya padaku” yecha mengutuk dirinya karena
berbohong pada sunbenya. Yolan hanya terdiam dan menatap yecha yang sekarang
tengah asik melihat adegan dance yang ada di lantai dance.
“aaa, waktu itu dia mabuk dan mecium seorang yeoja yang
lewat didekatnya. Jadinya yeoja itu dicium olehnya dan mendapat tamparan dan
tendangan maut” ucap seorang bartender yang lewat didekatnya. Yolan menatap nya
tajam dan membuang wajahnya karena malu melihat yecha yang sekarang menatapnya
heran
“sunbe suka minum?” yolan mengangguk kecil. Yecha memaklumi
kesukaan yolan karena itu wajar. Yecha merasa lega karena ternyata itu bukan
disengaja. Hatinya serasa lebih ringan dari pada biasanya. Seukir senyuman
menghiasi wajah mungilnya
“oh, apakah kau jadi menerima beasiswa itu?” belum jadi
yecha merasakan kebahagian sekarang di tanyakan pertanyaan yang sempat
dilupakannya tadi. Yecha menunduk menatap sepatu kets dongkernya. Apa yang
harus dijawabnya? Sedangkan hatinya masih gundah karena apa dia harus memilih
iya atau tidak pergi.
“kurasa aku menerimanya” akhirnya itu pilihan yang harus
dikatakan yecha. Dia menyesali jawabannya karena dia belum pasti akan
menerimanya atau belum.
“baguslah. Jika kau menolaknya kau pasti dimusuhi oleh orang
orang. Mendapatkan beasiswa keluar negeri itu sangatlah payah. Jika kesempatan
itu datang dank au menolaknya berarti kau orang palng bodoh di dunia” yecha
menatap yolan tak percaya. Yolan yang sering membuat teman temannya tertawa
terpingkal pingkal, yolan yang biasanya sangat ceroboh dan kekanak kanakan
ternyata memiliki sisi dewasa. Hati yecha masih ragu mendengarnya. Apakah dia
tepat untuk enerima beasiswa itu atau tidak
“jika kita tidak menerimanya karena orang yang kita cintai
itu ada disini, bukankah itu pilihan yang bijak?” yecha menyoba memberanikan
dirinya untuk menanyakan pertanyaan yang sejak tadi menganggunya. Yolan
tersenyum manis dan menepuk pelan kepala yecha hingga wajah yecha yang putih
berubah menjadi merah.
“kau tau. Itu sama saja dengan memberikan apa yang kita
miliki pada orang lain. Kalau kau seperti itu berarti kau orang yang paling
egois yang pernah ku temui.. hanya karena cinta yang itu benar benar cita sejati
kita atau tidak, kau malah melepaskan mimpi mu seperti itu saja. Sama dengan
melepaskan burung merpati putih cantik yang mahal.” Yolan memperbaiki duduknya
dan menatap yecha yang tengah memikirkan sesuatu. Yolan diam diam akan
merinndukan wajah polo situ suatu saat nanti.
“kalau kita merasa tak merelakannya pergi takut akan diambil
orang lain dan dia akan melupakan kita bagaimana?” yecha kembali menatap polos
yolan. Yolan harus beberapa kali menyadarkan dirinya dari lamunannya ketika
menatap wajah dan mata bulat itu.
“percayalah. Jika dia jodohmu pasti dia akan datang padamu”
yecha tersenyum dan memegang kedua tangan yolan
“gamzamita sunbe-nim. Kurasa aku tak salah mengambil
keputusan” yecha segera melepaskan tangannnya dari tangan yolan ketika
handponenya berdering.
“ne.. aku akan pulang” yecha segera berpamitan pada yolan
dan berjalan keluar dari bar tersebut.yolan menatap punggung yecha yang
menghilan di antara orang orang yang sibuk dengan gerakan gila mereka. Entah
kenapa dia merasa lebih dekat dengan yecha akhir akhir ini.
----00000----
Sebuah lukisan dengan bingkainya
yang bewarna coklat keemasan membuat lukisan itu terkesan lebih mahal dan
langka siapa saja yang melihatnya. Yecha membawa lukisan itu kesebuah ruangan
yang tak terlalu besar dengan dipeuhi kanfas kanfas kosong dan kaleng kaleng
cat yang berserakan di lantai. Yecha menatap seorang namja yang Nampak tengah
melukis sesuatu di kanfas putihnya. Namja itu Nampak serius sehingga yecha ragu
untuk memanggilnya.
“kau bisa kesini sebentar yecha?” yecha yang tadi nya ingin
meninggalkan ruangan itu tak jadi karena namja itu sudah tau keberadaan nya
disana
“ne seongsanim” yecha dengan lukisannya pun berjalan kea rah
namja tersebut. Yecha Nampak kagum melihat lukisan yang dibuat seongsanim
tersebut. Sebuah lukisan burung dengan membawa sebuah tangkai bungai
diparuhnya. Ini bukan yang pertama kalinya yecha melihat hasil lukisan
seongsanimnya. Seongsanimnya itu melihat lukisan yang dibawa yecha. Yecha yang
sadar pun menyerahkan lukisan tersebut dan menunggu apa yang harus didengarnya
“aku tak pernah menyesal menjadi gurumu,yecha. Lukisanmu
selalu mendapat hasil yang luar biasa” ucap seongsanim tersebut sambil melihat
detil detil lukisan yang dibuat yecha. Yecha membungkuk sedikit untuk berterima
kasih karena hasil kerja keras dia selama ini mendapat nilai yang bagus dari
seongsanimnya
“ne. kurasa kau tak usah takut dengan nilai mu” seongsanim
itu membubuhkan tanda tangannya pada kanfas yang belum terkena cat sebagai
tanda penilainnnya dan memberikannya pada yecha
“gamzamita seongsanim” yecha membungkuk dan berjalan
meninggalkan seongsanimnya.belum sempat yecha melangkahkan kakinya keluar
pintu, seongsanimnya kembali memanggil namanya.
“apakah kau mendapat beasiswa keluar negeri yecha?” yecha
membalikan badannya dan mengangguk menjawab pertanyaan seongsanimnya
“baguslah. Kuharap kau tak menolaknya. Karena itu peluang
besar bagimu yecha” yecha menatap bingung seongsanimnya.
“kau tau, banyak sekali orang orang ingin belajar seni
kesana tapi apa yang terjadi? Mereka tak bisa karena banyak hal yang membuat
mereka gagal kesana. Sedangkan kau? Tanpa usaha apapun peluang itu datang
padamu. Sebaiknya kau menerima beasiswa tersebut dan bahagiakan orang tua mu
dengan hasil kerja keras mu disana” yecha tersenyum lebar mendengar nasehat
seongsanimnya. Yecha membungkuk beberapa kali dan berjalan dengan cepat keluar
ruangan tersebut.
Yecha duduk di sebuah kursi di
bawah pohon yang rindang sambil menjatuhkan bulir bulir hujan tadi. Yecha
menatap layar handponenya yang disana tertulis sebuah nomor yang sangat hapal
olehnya. Sesekali yecha ingin memencet sbeuah tombol hijau di handponenya, tapi
keraguan masih memenuhi otaknya. Dalam keadaan seperti ini apa yang harus yecha
lakukan? Karena ini hari terakhirnya berjanji pada ayahnya akan menjawab
permintaan ayahnya itu. Dalam keadaan seperti ini teringat olehnya kata kata
seseorang yang bisa membuatnya yakin dengan tujuannya walaupun keraguan masih
ada sedikit di dadanya
“baiklah. Ini adalah jalanku” akhirnya pun yecha memilih menekan
tombol hijau tersebut. Tak perlu menunggu lama. Sebuah suara yang terasa
beratpun berbunyi di ujung telvon disana.
“yeoboseo. Appa”
----00000-----
Yolan menatap sebuah kursi
kosong di bawah pohon rindang dengan sesekali bulir air jatuh dari daun di atasnya.
Kursi itu sering diduduki oleh seorang yeoja berparas cantik, lembut dan
berwajah mungil dan putih. Yeoja itu sering membaca buku-entah-apa-namanya di
kursi tersebut. Walaupun dulu yolan sering bertanya ‘apakah yeoja itu aneh?’
karena terus membaca buku disana tanpa memperhatikan orang orang yang mengejar
sebuah bola putih hitam di lapangan di depannya duduk. Seiring berjalannya
waktu, yolan bisa mengerti kenapa yeoja itu seperti itu. Dan dia juga
berfirasat, sepertinya dia akan kehilangan sesuatu yang berharga bagi hidupnya.
Dengan berat, yolan melangkahkan kakinya ke arah Gerbang yang tak jauh dari
tempatnya saat ini sambil memperhatikan langit yang kembali mendung. Seperti
nya hujan akan turun. Lagi.
----0000---
Haneul menatap sedih yecha yang
sedang mengetik di pcnya. Sejak mengangkat telvon entah-dari-siapa, yechaterus
mengetik tanpa mempedulikan haneul yang sudah capek capek datang ke rumahnya
sambil membawa beberapa makanan untuk makan malam. Yecha sesekali menggerakan
mousenya. Haneul yang merasa jengkel dan bosan duduk di sebelah yecha. Dia
memperhatikan gerak gerik yecha yang membuat yecha merasa resah.
“apa kau benar benar merasa puas dengan pilihanmu?” yecha
menganngguk sekali dan merenggangkan otot otot badannya yang tegang. Haneul
menyerahkan air putih dan beberapa potong roti kering untuk yecha karena sejak
tadi dia belum menyentuh apapun selain pcnya. Yecha merasa beruntung memiliki
teman seperti haneul. Baik, pengertian, perhatian walaupun sesekali dia seperti
seorang ajumma yang menjengkelkan tapi itu lah haneul, dia dapat membuat hari
haari yecha merasa tenang dan bewarna.
“sekarang kau membuat apa?”haneul mengarahkan ekor matanya
pada pc yecha yang menampilkan berapa rangakian huruf yang tak begitu rapat.
“itu formulir pendaftaran universitas itali. Aku harus
membuatnya sekarang karena hanya tinggal 5 hari untuk mendaftar kesana” yeha
menghabiskan air yang diberikan haneul tadi dengan cepat. Dia beranjak dari
kursi dan berjalan kea rah tumpukan baju yang tertata rapi disebelah tempat
tidur.
“apakah kau bisa menjaga dirimu disana dengan baik?” yecha
menjawabnya dengan senyuman tulus. Dia tau haneul pasti akan menghawatirkannya
karena selama ini haneulah yang hampir sering memasak untuknya dan mengingatkan
sesuatu pada yecha. Walaupun rumah haneul bisa dibilang jauh dari apartemennya,
haneul menyempatkan diri untuk menolong
yecha di apartemen kecilnya walaupun sebenarnya itu tak perlu.
“aku sudah besar, aku bisa menjagadiri ku dengan baik
disana. Kojeonmal” yecha berjalan kea rah haneul dan duduk di sebelahnya
“ketika aku telah berada disana, aku akan berusaha dengan
keras untuk menjadi ahli dalam bidang seni dan dikenal oleh orang banyak untuk
membuat orangtua ku dan kamu menjadi bangga. Dan ketika aku pulang ke seoul,
orang orang akan meneriaki namaku dan itu pasti akan tewujud”haneul tersenyum
mendengar impian yecha yang tinggi itu. Dia berdoa di hati kecilnya semoga
impian nya tadi di kabulkan segera.
----0000---
“gamzamita” yecha menundukan
kepalanya ketika telah melayani pelanggan. Yecha segera membersihkan meja kasir
sebelum pelanggan yang lain datang. Pintu terbuka lebar membawa udara dingin
dari luar masuk kedalam supermarket kecil tersebut. Malam yang basah karena
hujan membuat yecha sesekali menggosok tangannya karena lupa membawa jaket.
Diluar yang bisa dibilang gelap membuat yecha lebih betah di dalam gedung
mungil tersebut walaupun sebenarnya jam kerjanya sudah habis 7menit yang lalu.
Yecha segera melayani pelanggan ketika 2 buah botol muniman isotonic dan
beberapa roti terletak di atas meja kasir.
“semuanya— oh?” yecha yang ingin menyebutkan jumlah belanja
pelanggan tersebut terpotong ketika melihat seorang namja bertopi hitam
menatapnya tekejut dengan mata bundarnya
“k..kau bekerja disini?” yecha hanya mengangguk tanpa
melepaskan pandangannya dari wajah tampan didepannya
“sunbe, kau dari mana?” yecha menatap yolan dari atas sampai
bawah. Dia hanya memakai sepatu olahraga bewarna biru tua,celana training
hitam, jaket tebal yang sepertinya dilampisi 2 buah jaket dan tas besar yang
tersadang dibahu yolan.
“aku baru pulang dari gym” yecha yang sadar dari
kepesonaanya oleh wajah yolan segera memberikan kantong yang berisi belanjaan
kepada yolan
“gamzamita” yecha segera menerima uang yang diberikan yolan
dan memberikan kemabliannya dengan tangan yang gemetar.
“ku tunggu kau didepan” yolan segera keluar dari supermarket
itu dan menghilang di balik pintu transparan.
Setelah menyelesainkan pekerjaan
yang masih tersisa, yecha segera keluar dan menemukan yolan yang tengah duduk
dengan santai di sebuah kedai yang menjual beberapa makan korea di sebelah
tempat kerjanya. Yolan yang menyadari kehadiran yecha segeran menggeser
kursi disampingnya dan menyilahkan yecha
untuk duduk. Setelah memesan makanan yang bisa membuat mereka hangat.
Suasana yang dingin karena hujan
dan canggung membuat yolan merasa bodoh di depan yecha. Setelah meminum
beberapa gelas air putih, dia pun mulai angkat bicara
“apakah kau jadi pergi ke Italy?” mendengar jawaban itu
yecha terdiam sejenak dan mengangguk. Yolan hanya mengangguk pelan dan menatap
gerimis hujan yang mengguyur myendong malam itu. Yecha menatap makanan yang
telah dihidangkan di depan mereka.
Setelah mengahabiskan makan
mereka, yolan kembali bicara walaupun sebenarnya tak ada yang perlu dibicarakan
lagi
“apakah kau yakin dengan keputusanmu?” yecha hanya
mengangguk pelan. Dia sudah sepakat dengan hati kecilya kalau dia akan ke
Italy.
“aku akan pergi 2minggu lagi. Disana aku akan menunggu hasil
tes masuk university. Kuharap sunbe “mendoakan ku” yolan mengangguk dengan
senyuman manisnya yang membuat yecha seperti patung.
“cha. Mari pulang. Seperti nya hujannya telah berhenti”
yolan mengambil tas yang diletakkannya di kursi sebelahnya dan mengajak yecha
untuk pergi mengikutinya.yecha dan yolan berjalan menuju halte yang letaknya
tak begitu jauh dari tempat tadi. Sepanjang perjalanan, mereka hanya
mengahabiskan waktu dengan melamun atau melihat kedaan sekeliling mereka. Yecha
menatap yolan yang sepertinya tak tau kalau yecha sekarang hampir mati membeku.
“hmm, ada apa?” yolan yang merasa diperhatikan segera
menoleh kea rah yecha dan mendapatkan yecha yang tengah menggosokan kedua
tangannya. Dengan cepat yolan memakaikan jaket miliknya ke badan yecha dan
memeluknya supaya yecha lebih hangat
Deg!
Hati kecil yecha berdoa semoga
waktu benar benar berhenti sekarang. Dia tak ingin melepaskan pelukan ini.
Pelukan yang tak akan pernah dia rasakan lagi. Yecha menitikan matanya
mengingat bahwa dia takan melihat namja yang sekarang semakin erat memeluknya.
“jangan pergi” walaupun suara itu benar benar pelan dan
hampir tak bisa di dengar, tapi yecha bisa mendengarnya cukup jelas. Yolan
segera melepaskan pelukannya dan memalingkan wajahnya dari yecha. Yecha segera
membungkukan badannya dan berterima kasih pada yolan
“gamzamita sunbe-nim karena telah mentraktir dan meminjamkan
jaket ini padaku” yolan menatap yecha dengan senyuman dan mengangguk pelan
“ambil saja jaket ini. Aku punya banyak jaket seperti ini di
rumah. Anggap saja ini kenang kenangan dari sunbe mu ini” yolan menepuk nepuk
pelan kepala yecha dan berjalan meninggalkan yecha di halte bus
“hati hati”yolan melambaikan tangannya pada yecha dan segera
belari meninggalkan yecha yang masih menatapnya sendu. Dia pasti akan menatap
wajah itu lagi, pasti.
----0000---
2minggu kemudian
Bandara Incheon siang itu cukup
ramai mengingat musim libur segera datag. Seorang yeoja yang hanya menggunakan
kaos oblong biru laut,celana jins putih selutut dan sepatu kets senada dengan
celana Nampak tengah memeluk orang orang yang datang mengantarnya ke bandara
tersebut. Yecha menepuk nepuk punggung ammanya lembut untuk supaya ammanya
tenang dari tangisannya. Setelah tangisan ammanya sedikit mereda, yecha memeluk
haneul yang wajahnya Nampak murung.
“sudahlah, aku tak selamanya disana” yecha encubit pelan
pipi haneul dan mendapat balasan jitakkan dan pelukan erat dari haneul. Haneul
tertawa mendengar celotehan panjang haneul dan menatap canggung yolan yang di
depannya
“gamzamita sunbe-nim karena telah mengantarkanku ke bandara”
yolan mengangguk pelan dan menjabat tangannya yecha. Yecha tersenyum dan
beralih memeluk appanya.
“disana kau jangan nakal. Kau harus pada kim ajussi dan
jangan berbuat macam macam” yecha mengangguk mengerti.
“penerbangan ke Italy dengan nomor penerbangan…”
yecha segera menarik kopernya setelah mendengar pemberitahuan yang membuatnya
sadar dari celotehan panjang ammanya. Yecha melambaikan tangannya pada orang
orang yang akan ditinggalkannya dan memasuki sebuah pintu kaca besar di
depannya. Tiba tiba tangan yecha ditarik membuat yecha hampir terjatuh. Dengan
segera seseorang memeluk yecha supaya tidak jatuh dan orang itu adalah yolan.
“sunbe! Bukankah kau tidak boleh masuk kesini?” yolan
tersenyum dan menunjuk seorang namja bersetelan jas hitam yang berdiri tak jauh
dari pintu yang dimasukinya tadi
“ajussi itu teman appa ku. Dia mengizinkan selama 5menit utk
memberikan ini” yolan memberikan sebuah mp3 bewarna hijau daun dengan sebuah
tulisan di sudut kiri atasnya. Yecha hampir mengangis menerima hadiah kecill
dari yolan.
“ini mp3 yang ingin kuberikan pada seseorang yang kusukai
dulu, tapi dia telah memiliki seorang namja dan selama ini aku hanya
menyimpannya dilaci mejaku” yolan menggaruk lehernya yang tak gatal ketika
menatap tatapan yecha yang polos itu. Tatapan yang selalu membuatnya bisa
menggila secara tiba tiba.
“gamzamita” yecha segera membungkuk berterima kasih dan
malah direspone aneh oleh yolan. Yolan menepuk nepuk pahanya dan menggigit
bibir awahnya
“aigoo. Kenapa kau berterima kasih?” ucap yolan gemas
melihat ekspresi yecha. Yolan hanya bisa menatap yecha tak sabaran dan memegang
kedua tangan dingin yecha
“semoga kau baik baik disana” yecha mengangguk semangangat
dan menganggkat tangannya untuk menyemangati dirinya dan juga yolan. Yolan
tertaw kecil dan menepuk nepuk kepala yecha lembut.
“cha. Sekarang pergilah dan raih mimpimu ne?” yolan
membalikan badan yecha dan mendorongnya untuk berjalan memasuki pesawat.yecha
melambaikan tangannya pada yolan dan berjalan melewati belalai tersebut. Yolan
segera keluar dari ruangan tersebut dan menatap yecha dari balik kaca yang
membatasinya dengan yecha. Bisa dilihatnya yecha menatap mp3 yang diberikannya
tadi dengan menunduk. Sepertinya dia menangis. Tak berapa kemudian, pesawat telah
meluncur ketika badan yecha telah ditelan oleh pesawat itu tanpa bekas.
Yolan bisa merasakan detak
jantungnya yang tak karuan. Yolan tersenyum miris dan membalikan badannya dari
kaca besar itu. Dengan berat yolan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan
bandara tersebut walaupun sebenarnya dia tak ingin.
Yecha mengusap pelan mp3 yang
diberikan yolan tadi. Mp3 berbentuk persegi bewarna hijau daun dan sebuah
tulisan yang ditulis dengan tinta timbul pink di ujungnya. Sebuah senyuman dan
setitik air mata menghiasi wajah yecha. Bukan kesedihan yang dilanda oleh yecha
saat ini, tapi sebuah rasa bahagia yang meledak ledak yang mungkin bisa
menghancurkan pesawat itu. Yecha menutup mulutnya supaya tak satupun suara yang
dikeluarkannya. Ditatapnya lagi tulisan itu dan segera menyadari suatu
hal.tulisan pink itu terus dielusnya, tulisan yang bisa membuatnya segera
kembali lagi ke seoul dan mengatakan isi hatinya ‘wo ai ni’.
--end--

0 komentar